Kini, Sungai jadi tempat berkumpul bermacam sampah

Sungai seharusnya menjadi sumber utama kehidupan, karena air merupakan bahan pokok yang dibutuhkan oleh makhluk hidup, akan tetapi.... …

 

Sungai seharusnya menjadi sumber utama kehidupan, karena air merupakan bahan pokok yang dibutuhkan oleh makhluk hidup, akan tetapi....

Sungai selayaknya menjadi sumber mata air yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari seperti air minum, untuk mandi, mencuci pakaian dan peralatan makan serta beragam manfaat yang lainnya.

Limbah bangunan dan kemasan makanan

Limbah kemasan makanan seperti styrofoam dan limbah sisa pembangunan gedung seperti bekas reruntuhan tembok, memang sulit untuk diuraikan. Biasanya limbah-limbah tersebut dibuang di dekat sungai. Apabila terjadi hujan deras dan angin kencang, sampah yang ada di dekat sungai akan mudah hanyut, apalagi kalau arus sungaimya sedang deras-derasnya.

Sungai yang tercemar akan berpengaruh terhadap kualitas airnya dan dapat berdampak pada konsumen yang menggunakannya.

Sungai menjadi sumber mata air yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Air dari sungai dapat dimanfaatkan untuk dikonsumsi menjadi air minum, dapat digunakan untuk membersihkan pakaian dan peralatan makan, serta untuk konsumsi makhluk hidup yang lain.

Sampah tidak hanya merusak estetika sungai, tapi juga merusak kelestarian lingkungan. Sungai seharusnya menjadi sumber utama kehidupan, karena air merupakan bahan pokok yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup. Kualitas air mempengaruhi kualitas konsumsi dan kesehatan makhluk hidup di sekitarnya.

Ironis memang, melihat sungai yang tercemari. Sungai yang menjadi sumber utama kehidupan, seharusnya bersih dan nyaman untuk dipandang. Sungai yang bersih, maka konsumsi masyarakatnya akan aman, sehingga dapat berdampak baik pada kehidupan makhluk hidupnya.

Lebih ironis lagi, karena kondisi sungai yang seperti ini berada di dalam sebuah kampus. Wilayah di dalam kampus yang berisi banyak mahasiswa seharusnya bisa menjadi kawasan yang bersih, ramah lingkungan dan menyehatkan. Terkadang, pihak kampus lebih fokus membuat kebijakan terutama yang berhubungan dengan nilai akademik dan kemahasiswaan, akan tetapi kurang memperhatikan wilayah pinggir kampus seperti kondisi sungai tersebut.

Sampah anorganik

Sampah anorganik terutama limbah kemasan makanan seperti Styrofoam dan plastik, serta limbah sisa pembangunan gedung seperti reruntuhan tembok dan kayu bekas dapat menjadi limbah yang bisa mencemari lingkungan sungai. Limbah sendiri merupakan bahan buangan atau sisa yang dihasilkan dari proses kegiatan manusia. Limbah dapat berupa tumpukan barang yang tidak digunakan maupun sisa bahan atau barang yang sudah tidak termanfaatkan.

Secara tidak langsung, memang sampah-sampah tersebut tidak dibuang ke sungai, akan tetapi dibuang ke sebelah sungai. Apabila terjadi hujan deras disertai angin kencang, maka sampah-sampah tersebut akan hanyut ke sungai, sehingga sungai menjadi kotor dan sangat keruh. Limbah-limbah tersebut dapat mempengaruhi keseimbangan lingkungan sungai.

Limbah-limbah tersebut tidak hanya merusak kelestarian sungai, apabila air sungai dikonsumsi, maka akan berdampak negatif pada konsumen. Limbah-limbah tersebut mengandung kontaminan baik fisik maupun kimia. Senyawa kimia pada limbah-limbah tersebut dapat terlepas dan larut ke lingkungan air sungai, apabila air sungai tersebut dikonsumsi, sangat mungkin bahayanya dapat terakumulasi dalam tubuh. Begitu juga dengan biota sungai yang ada di dalamnya, seperti ikan-ikan. Apabila kita mengkonsumsi ikan yang telah teracuni, maka kita sebagai konsumen juga bisa merasakan dampak negatifnya.

Solusi bijaksana mengurangi sampah

Sampah dan limbah yang ada di lingkungan kita memang belum tertangani dengan baik. Sebagai konsumen, kita dapat membantu mengurangi limbah makanan, baik kemasan makanannya maupun makanan tersebut. Kita dapat mengurangi penggunaan wadah makanan sekali pakai seperti Styrofoam, kertas makan, plastik sekali pakai dan sejenisnya. Kita dapat menggantinya dengan food container yang bisa digunakan berulang kali, selain itu kita juga sebaiknya membawa miuman sendiri dalam wadah tumbler yang kapanpun bisa diisi ulang dan mengurangi pembelian air minum dalam kemasan.

Limbah sisa konstruksi bangunan memang belum bisa tertangani secara optimal, akan tetapi dapat diminimalisir dengan memanfaatkan material yang ada dengan sebaik mungkin dan menghindari kelalaian tenaga kerja sehingga tidak terjadi kesalahan. Mungkin bahan-bahan yang masih bisa digunakan seperti kayu dapat dimanfaatkan kembali, selain mengurangi limbah kayu, juga dapat memberikan keuntungan secara materi karena tidak memerlukan pembelian yang lebih banyak. Limbah seperti runtuhan bangunan dapat dikumpulkan menjadi satu yang mungkin dapat diolah dan dimanfaatkan kembali, atau dikumpulkan dan dibuang ke tempat yang lebih aman sehingga tidak mencemari lingkungan sungai.

Penulis: Khoiro Inda Dini