Mari Kita Ubah Trend Mengunggah Foto Makanan

kebiasaan mengunggah foto makanan diubah jadi gerakan penyelamatan lingkungan. Menghabiskan makanan, sebagai cara peduli pada kelaparan..…

Mengunggah foto makan seolah menjadi trend bermedia sosial bagi banyak orang. Mereka memotret makanan sebelum memakannya. Entah sekedar memamerkan, berbagi resep atau merekomendasikan makanan dan tempat makan ke teman-temannya. 

Kampanye Habiskan Sisa Makanan

Tidak sedikit orang mencibir akibat unggahan foto makanan, terutama di kala pandemi seperti saat ini. Mereka menyerukan agar menahan dulu untuk tidak mengunggah foto makanan di media sosial. Hal ini dikarenakan banyak orang mengalami kelaparan dan kesulitan ekonomi di tengah pandemi, tapi malah pamer makanan.

Sisa Makanan

Namun, siapa sangka, unggahan foto makanan juga memberikan banyak manfaat. Banyak anak kos yang terinspirasi setelah mendapat resep makanan yang enak, mudah sekaligus murah, juga ibu ibu yang terbantu akibat kebingungan mau masak apa bagi keluarganya.

Sebenarnya, kebiasaan mengunggah foto makanan ini bisa diubah menjadi sebuah gerakan penyelamatan lingkungan. Caranya dengan mengunggah piring kosong kita usai makan. Piring kosong di sini menunjukkan bahwa kita sudah menghabiskan makananan tanpa menyisakannya.

Kepedulian pada Kelaparan

Foto makanan yang diunggah bisa disertakan berbagai hastag, misalnya #piringkosong, #piringkosongid atau #piringkosongchallenge. Gerakan seperti ini dinilai cukup sederhana namun memberikan dampak begitu besar. Dengan menghabiskan makanan, merupakan cara untuk mengungkapkan rasa peduli pada mereka yang kelaparan.

Makanan yang siap dimakan oleh manusia tapi dibuang tanpa alasan atau lebih sering dikenal dengan istilah food waste menjadi salah satu permasalahan di Indonesia. Makanan yang dibuang merupakan produk makanan atau produk makanan alternatif yang masih aman dan bergizi untuk dikonsumsi. 

Indonesia Juara Dua (2)

Berdasar data dari Economist Intelligent Unit (EIU)  Indonesia menempati peringkat kedua setelah Arab Saudi sebagai Negara penghasil sampah makanan terbanyak di dunia. Dalam data tersebut dijelaskan bahwa pola konsumsi makanan masyarakat yang buruk membuat produksi sampah meningkat per tahunnya.

Sisa Makanan

Banyak fakta mengerikan tentang sampah makanan. Di Indonesia, sampah makanan mencapai 13 juta ton setiap tahunnya. Sampah makanan ini kebanyakan dari ritel, catering dan restoran. Jika dirata-rata, setiap orang Indonesia menghasilkan sampah makanan sebanyak 300 kilogram. Masih di bawah satu tingkat Arab Saudi sebesar 427 kilogram per orang setiap tahunnya. 

Hal ini diungkapkan Kepala Perwakilan Badan Pangan PBB (FAO), Mark Smulders pada tahun 2016. Berat ini sama dengan 500 kali berat Monas di Jakarta. Jika dikelola dengan baik, sampah makanan 13 juta ton bisa menghidupi lebih dari 28 juta orang. Angka ini hampir sama dengan penduduk miskin atau sekitar 11% dari populasi Indonesia.

Berdasarkan data FAO, setiap tahun ada 1.6 Milyar ton makanan terbuang, dan 1.3 Milyar ton dari jumlah tersebut merupakan makanan layak makan. Padahal, hanya butuh seperempat  dari bagian ini untuk memberikan makan kepada 870 juta penduduk dunia. Secara nilai, estimasi kerugian yang diakibatkan di Negara maju mencapai 680 miliar dolar AS dan di Negara berkembang 310 miliar dolar AS.

Emisi Karbon Akibat Food Waste

Adanya food waste ini sangat membahayakan. Sebab, jumlah emisi karbon yang dihasilkan diperkirakan mencapai 3.3 Milyar CO2 setiap tahun. Jika diibaratkan food waste sebuah Negara, maka Negara food waste menempati  urutan ketiga penyumbang emisi karbon terbanyak penyebab efek rumah kaca dan perubahan iklim di bumi setelah China dan Amerika. Mengalahkan Negara India di peringkat keempat.

Food waste dapat merusak sumber daya air. Total volume air yang digunakan setiap tahun untuk menghasilkan makanan yang hilang atau terbuang sebesar 250 Km3. Setara dengan aliran Sungai Volga di Rusia, atau tiga kali volume Danau Jenewa. Demikian pula, sebesar 1.4 miliar hektar lahan (28% daerah pertanian dunia) digunakan setiap tahun untuk menghasilkan makanan yang hilang atau terhubung. Jumlah makan yang terbuang cukup untuk memberi makan 800 juta orang miskin di dunia.

Stop Membuang Makanan

Banyak orang tanpa sadar menyia-nyiakan makanan. Seringkali terlihat ketika menghadiri acara atau pesta, seseorang mengambil porsi makanan berlebih serta sengaja menyisakannya. Mirisnya, hal tersebut dilakukan hanya karena takut mendapat ejekan kelaparan atau rakus.

Makanan dibuang

Berdasar hasil riset Kanopi FEB UI, peningkatan rasa bersalah dari responden setelah mengetahui fakta dari buruknya food waste di Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat tidak sadar akan bahaya yang ditimbulkan dari problematik ini. Padahal, tanpa kita sadari, permasalahan ini telah membahayakan alam dan mengukir kesenjangan sosial.

Peran Pemangku Kebijakan dan Gerakan Bersama

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi problematika ini. Para pemangku kebijakan perlu memperhatikan permasalahan ini dengan serius. Di Negara maju, makanan yang terbuang cuma cuma di tempat umum dikenakan denda. Selain itu, produk makanan di toko toko yang hampir kadaluarsa sebaiknya dibagi bagi. 

Selain pendidikan non formal, pendidikan formal bagi anak anak juga perlu diajarkan perilaku hemat konsumsi. Begitu juga peran media dan komunitas sangat penting dalam mengampanyekan bahaya food waste sehingga terciptanya perilaku dari boros konsumsi menjadi hemat konsumsi. 

Gerakan ini juga bisa dimulai dari diri kita sendiri, seperti memulai mengonsumsi makanan dengan bijak, sesuai porsi serta mengkampanyekan melalui akun media sosial seperti yang dijelaskan sebelumnya dengan mengunggah piring kosong dengan disertai beberapa hastag. Dengan begitu, kita dapat menciptakan perubahan besar untuk dunia yang lebih baik. 

Penulis: Niswatin Hasanah