Menembus Batas Imaji dan Fakta

Sastra bersinggungan mulai dari politik, ekonomi, demokrasi, perang hingga perkara seks merupakan komoditas menarik dalam karya sastra.…

 

“Cerita..., selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada sang manusia. Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa... pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.”

Pramoedya Ananta Toer – (Bumi Manusia) 

Sastra dan Kehidupan

Ungkapan Pram memang representatif menakar cerita – sastra – sebagai sebuah hubungan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tentu Pram sangat tahu betul apa yang diyakininya sebab dia sendiri mengarang karya yang fenomenal dan menjebak pembaca untuk menyakini pula apa yang dinarasikan sebagai kisah nyata. Sastra bersinggungan mulai dari politik, ekonomi, demokrasi, perang hingga perkara seks merupakan komoditas menarik dalam karya sastra. Tidak terkecuali sejarah kehidupan manusia. Menimbang korelasi sejarah dan sastra merupakan sesuatu yang sukar untuk dilakukan, akan tetapi tidak menutup kemungkinan pula bisa untuk dilakukan.

Keduanya mempunyai ranah yang tentu sangat berbeda. Sejak pendidikan dasar hingga bangku perkuliahan barangkali. Sastra diajarkan sebagai bentuk pengajaran yang membolehkan setiap individu untuk mengembangkan batas imajinasinya seliar yang ia sukai. Beda halnya dengan sejarah yang landasannya haruslah kejadian yang benar-benar terjadi. Artinya kontradiksi itu kentara di antara sejarah dan sastra. Namun apakah keduanya benar-benar terpisah lantaran basis metode yang digunakan berbeda?

Seperti pernyataan Pram, cerita adalah gambaran mengenai kehidupan manusia. Seluruh kehidupan manusia diceritakan termasuk latar-belakang. Pada teori-teori sastra yang tergolong modern dikenal pula strukturalisme-genetik yang dikenalkan oleh Lucien Goldmann. Lucien Goldman adalah seorang filsuf dan sosiolog Rumania-Perancis, teori dan pendekatan yang dimunculkannya merupakan kembangan sintesis dari pemikiran Jean Piget, Karl Marx dan George Lucas. Ia mempercayai bahwa struktur karya sastra merupakan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturasi dan destrukturisasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat asal karya sastra yang bersangkutan. Pada teori ini diyakini bahwa penulis atau pengarang selalu dipengaruhi oleh pandangan dunianya, suatu kesadaran kolektif yang berkembang sesuai dengan keadaan sosial dan ekonomi yang dihadapi. Karya sastra tidak terlahir dari kekosongan melainkan muncul dari serangkaian peristiwa yang mengilhami sang penulis. Sekalipun yang diceritakan hewan atau raksasa.

Bak gayung bersambut, teori new-historicism atau historisisme baru diperkenalkan oleh Stephen Jay Greenbaltt. Ia adalah seorang sejarawan sastra, editor, ahli dalam bidang karya sastra Shakespeare dan penulis. Greenbaltt menekankan keterkaitan sastra dengan berbagai kekuatan sosial, ekonomi, dan politik. Pendekatan historisisme baru tidak memisahkan karya sastra dengan pengarangnya, juga tidak memisahkan karya sastra dengan konteks zamannya. Artinya tidak ada lagi batas pemisah antara fakta dan fiksi, sehingga lahir pendapat ekstrem yang menyatakan membaca sastra sama halnya dengan membaca sejarah begitupun sebaliknya membaca sejarah sama halnya dengan membaca sastra.

Sastra Lisan

Jan Vansina (1985), seorang sejarawan dari Belgia dan antropolog, dalam bukunya yang berjudul Oral Traditian as History meyakini bahwa tradisi lisan adalah kesaksian yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Tradisi lisan muncul di lingkungan kebudayaan lisan dari suatu masyarakat, yang perlu dicermati adalah penyampaian cerita-cerita secara lisan. Barangkali cerita itu muncul dari produser penulis yang hendak meneguhkan sesuatu baik itu berbentuk kebudayaan atau hanya sekadar makna politis. Karena di dalam tradisi lisan terkandung unsur-unsur kejadian sejarah, nilai-nilai moral, nilai-nilai keagamaan, adat istiadat, cerita-cerita khayalan, peribahasa, nyanyian, serta mantra-mantra suatu masyarakat. Misalnya dalam cerita-cerita Perang Paregreg dan Panji.

Perang Paregereg khususnya masyarakat Jawa meyakini digambarkan melalui perang epik antara dua tokoh yakni Damarwulan dan Minakjinggo. Kisah ini diceritakan secara turun-temurun, orang-orang Jawa juga selalu meyakini bahwa yang digambarkan sebagai Damarwulan adalah personifikasi dari Raden Gajah sedangkan Minakjinggo adalah Bhre Wirabhumi. Begitu pula seperti cerita Panji, yang menceritakan dua anak manusia yang saling jatuh hati namun terpisah lantaran terhalang oleh dua kerajaan yang saling bermusuhan, Panji Asmarabangun dengan Dewi Sekartaji. Menyatunya keduanya adalah simbol politik  usaha penyatuan kerajaan Jenggala dan Panjalu.


Makna Politik

Benarkah tokoh-tokoh sejarah yang diceritakan secara lisan memang ada wujudnya atau hanya jangan-jangan berasal dari imajinasi masyarakat Jawa yang seringkali mencocok-cocokkan saja asal pas. Dari sudut pandang sejarawan, karya sastra barangkali memberi sudut pandang perspektif baru untuk menjelaskan fenomena perubahan budaya dari satu masa ke masa selanjutnya. Namun, apakah sastra tetap dianggap valid untuk dijadikan dasar? Bagi sejarawan, bukan kebenaran atas peristiwa yang terjadi yang dijadikan sebagai dasar akan tetapi suasana atau dorongan di balik itu. Secara riil, fakta dalam sastra barangkali belum dapat diterima oleh sejarah. Alhasil, tokoh-tokoh seperti Damarwulan, Minakjinggo, Panji, Sekartaji, Ranggalawe setelah dibuktikan hanya tokoh rekaan. 

Misalnya dorongan politik, penyatuan kerajaan Jenggala dan Panjalu maka diceritakan sedemikian rupa dengan kisah cinta dua anak manusia. Yang satu berasal dari kerajaan Jenggala dan yang satu berasal dari kerajaan Panjalu. Kedua kerajaan saling bermusuhan, hadirnya cerita ini yang berkembang di masyarakat waktu dapat menjadi semangat penyatuan. Dorongan atau suasana politik juga tidak hanya terdapat pada cerita Panji. Pada cerita Damarwulan dan Minakjinggo, betapa pembunuhan karakter dilakukan demi menjatuhkan lawan politik. Penggambaran Minakjinggo misalnya berkaki pincang, dan mata buta sebelah.

Untuk mengetahui dorongan sang penulis atau pengarang cerita pun sulit untuk ditentukan, sehingga berdampak pada menentukan suasana yang melatarbelakangi cerita itu muncul. Penulis atau pengarang cerita waktu itu lebih banyak anonim, sulit untuk melacak dan butuh perbandingan karya-karya lain yang agaknya punya kecenderungan pola sama yang mengarah pada satu nama. Dampaknya adalah suasana yang melatarbelakangi yang ada pada sebuah cerita merupakan hasil intrepretasi berdasarkan asumsi-asumsi guthak-gathuk mathuk peneliti saat ini.

Tidak dapat dipungkiri bahwa cerita-cerita sastra mewakili berbagai kepentingan. Dari penulis, atau yang menginisiasi pembuatan cerita itu sendiri. Maka tidak heran ada perbedaan-perbedaan yang ada pada masyarakat. Misalnya saja, masyarakat Jawa pada umumnya menggambarkan Damarwulan sebagai sosok tokoh pemuda yang gagah dan ganteng dengan akhir cerita yang menjurus pada kebahagiaan. Sedangkan, musuhnya Minakjinggo digambarkan sebagai kebalikan dari perwujudan Damarwulan. Namun di masyarakat Banyuwangi yang belum terkena kepentingan-kepentingan ekonomi –pentas Janger- menggambarkan Damarwulan sebagai karakter cacat yang kalah dengan pengggambaran Minakjinggo sebagai idola masyarakat Banyuwangi.

Hal-hal semacam ini cukup meragukan dalam kinerja-kinerja sejarah. Mana yang dapat dijadikan sebagai sumber valid dan sah sebagai sumber rujukan serta yang paling mendekati kebenaran. Terlepas kebenaran itu memang relatif pada siapa yang menelurkan, akan tetapi cukup membuat kerancuan pada cara pandang sejarah. Terlebih jika cerita-cerita sastra sejarah yang didapat dari pertapaan seseorang di gunung-gunung yang dianggap keramat sehingga dirasuki arwah nenek moyang kemudian menceritakan masa lalu. 

Lorong-lorong pertemuan antara sastra dan sejarah barangkali tergambar jelas pada Babad Giyanti. Perpaduan sastra dan sejarah tergambar jelas merefleksikan keadaan politik yang berimbas pada gambaran sejarah. Runtutan pelbagai peristiwa diceritakan secara cukup jeli menggunakan bahasa yang dapat dikatakan sastrawi. Kata-kata sastrawi muncul di awal-awal bait, sebuah kebiasaan dalam sastra Jawa pramodern

Mamanise tas resep migati

Ing pangulah mring reh kasarjanan

Anetepi ing ugere

Jenegireng tumuwuh

...

Manis kalau hatinya menikmati keberhasilan

Dalam mengerjakan semua bentuk kesarjanaan

Menetapkan pegangan-pegangan

Kehidupan yang diciptakan

...

Dalam kaitannya refleksi mengenai kejadian politik pada Babad Giyanti juga menceritakan mengenai peperangan yang dilakukan oleh pemberontakan Pangeran Mangkunagara dan Pangeran Dhandun pada tahun 1748. Misalnya kejengkelan Pangeran Mangkunagara terhadap Pangeran Dhandun yang dianggapnya pengecut, seorang yang tak berani berperang. Bertanya sejurus mengejek. Serta misalnya pula penetapan Pangeran Mangkubumi sebagai raja di daerah Yogya (Sultan Hamengkubuwana I)

Nadyan ibu iya nyai rara kidul,

Yen nora wani perang

Sapa kang ngandel tut wuri?

Seandainya ibunya  Nyai Rara Kidul,

Kalau tidak berani berperang,

Siapa yang akan ikut di belakangnya?

...

Ingkang tuhu narendra

Mandhireng amengku

Talatah ing nuswa Jawa

Yang sejati raja

Bertakhta memerintah

Wilayah pulau Jawa

Penulis: Yovie Feria