Mengikhlaskanmu, Adalah Cara Terbaikku

Mereka berdua sudah berencana untuk menikah di tahun 2021. Persiapan tabungan mereka kumpulkan selama 5 bulan, mengikuti kelas pranikah..…

Cerpen

 “Aku menggigit bibir dan merasa gugup saat pertemuan pertama”, gumam Ara sembari menunggu seseorang yang menjumpainya.

Setelah 3 bulan berkenalan, mereka berdua memutuskan untuk bertemu. Pertemuan pertama yang mendebarkan, siapa sangka bahwa hubungan yang dijalaninya selama jarak jauh berlangsung hingga berbulan-bulan lamanya. Bahkan mereka berbohong kepada orang tua masing-masing agar bisa bertemu. 

Ara, Edukator dan Nando, seorang abdi Negara. Nando berasal dari timur pulau Jawa. Namun, saat ini sedang terikat dinas di luar Jawa dan hanya setahun sekali kembali pulang. Saat itulah ia bertemu Ara sebelum memutuskan untuk pulang ke rumah. Mereka berdua sudah berencana untuk menikah di tahun 2021. Persiapan tabungan sudah mereka kumpulkan dalam waktu 5 bulan. Mereka mengikuti beberapa kelas pranikah, pengelolaan budget pernikahan, saling berbagi cerita tentang keluarga masing-masing, berusaha untuk saling mempercayai satu sama lain. 

Saat itu Nando memberikan kado kejutan kue ulang tahun kepada Ara dan Ibu Ara. Hingga Ibu Ara meneteskan air mata, karena dalam seumur hidup baru kali ini mendapatkan kejutan ulang tahun. Nando juga beberapa kali mengobrol dengan Ibu Ara untuk lebih mengenal tentang keluarga Ara. Tidak heran jika Ibu Ara menganggap Nando sudah seperti anaknya sendiri.

Nando dan Ara-Mereka saling mengasihi meskipun kala itu belum ada ikatan resmi tunangan. Beberapa kali Nando sering bercerita tentang Ara kepada orang tuanya. Bahkan, kala itu Nando memberikan no.HP Ibunya kepada Ara. Nando mengharapkan agar Ara bisa dekat dengan keluarganya yang rumit. 

Namun, jawaban yang selalu dilontarkan ibu adalah, “ya udah, dijalani dulu. Nikah itu gak gampang”

Tak jarang Nando juga dimarahi ayahnya ketika beberapa kali bercerita tentang kebaikan Ara, sampai-sampai Ayahnya cemburu dan murka,

“Awas … kamu setelah pelatihan nanti minta nikah, tidak ayah anggap sebagai anak!”

Kala itu Nando bingung dan menceritakan semua kepada Ara.

“Araku, sabar ya, nanti akan ada saatnya waktu untuk kita berdua. Saat ini, aku masih ingin membahagiakan orang tuaku dulu. Jadi bawahan terus itu gak enak. Aku mempersiapkan masa depanku dulu, itu juga nanti kan buat kita berdua.”

“Eh, kemarin papa video call aku. Kebetulan ada tante juga disamping papa. Masak Tante godain aku katanya aku kebelet nikah,” sambungnya tersipu malu.

Namanya juga hubungan jarak jauh. Ara berada di Pulau Jawa, sedangkan Nando berada timur pulau Borneo. Hubungan mereka hanyalah sebatas via telepon saja. Selama 9 bulan bertahan tidak pernah ada masalah, semua bermodal kepercayaan satu dengan yang lain. Hari-hari kita luangkan dengan bercerita, mengikuti seminar bersama,membuat target produktif bersama, menulis bersama, menonton video bersama di tempat yang berbeda. Mereka menikmati kebiasaan itu. Semua terasa begitu indah. Dan tidak terbayangkan sebelumya  bahwa hubungan tersebut ditempa masalah yang begitu rumit.

Suatu ketika untuk promosi jabatan  sebagai abdi Negara, ditugaskan Nando bersama rekannya untuk mengikuti pendidikan di provinsi. Dia selau berkabar dalam perjalanan yang ia tempuh dengan kapal selama 14 jam. Tanda-tanda mulai terasa bahwa setelah beberapa hari tinggal di provinsi, kabar tentangnya perlahan mulai surut. Saat itu Ara hanya berusaha memaklumi mungkin saat itu sedang sibuk. Dia secara sopan menyampaikan pada Ara bahwa dia harus fokus mempersiapkan masa depan.

Ara saat itu mulai gundah dan menanti kabar dari Nando. Meminta Nando untuk menelponnya. 

Kring ... Kring …

“Assalamuaaikum, Ara”, sapa Nando 

“Waaaikumsalam, mas. Mas gimana keadaannya? Mas gak kangen aku ta?”, sahut Ara setengah bersedih

“Alhamdulillah baik. Yaa kangen. Sabar, ya. Aku disini sedang mempersiapkan masa depan. Aku ingin membahagiakan keluargaku. Tadi papa telpon kasih nasehat katanya gak boleh sering-sering telpon. Harus fokus ke diklatnya dulu.”

“Iya, maafin aku salah. Mas lagi di mana sekarang?” sahut ara.

“Lagi sama teman-teman. Kamu sehat-sehat di sana, jangan sampai sakit. Jagain mama. Nanti lagi ya kita telpon. Kamu jangan marah ya”, ucapnya dengan lemah lembut.

Hari beralih menjadi minggu dan minggu beralih menjadi bulan. Tepat satu bulan komunikasi mereka luntur. Saling berkabar tidak lagi mereka penuhi, tidak lagi saling meluangkan waktu karena kesibukan masing-masing.

Ara tidak bisa mempercayai tepat 10 bulan hubungan mereka berakhir sepihak. Nando  memutuskan untuk meninggalkan kisah membatu. Ara berusaha menahan tetesan air mata. Dan menanyakan alasan mengapa tidak memilih untuk menetap. Seakan mimpi buruk menjadi kenyataan. 

Ara masih terngiang saat Nando menangis kepadanya mengenai masalah di keluarganya yang ia simpan selama bertahun-tahun. Saat itu perhatian Ara selalu ada untuknya dan tidak ingin pergi darinya. Apakah secepat ini hubungan mereka berakhir?

“Apakah ada yang lain?” tanya Ara dengan lembut dan menelan ludah.

“Gak ada. Temanku di sini laki-laki semua. Aku yang salah. Aku gak bisa meluangkan waktu sama kamu. Aku merasa sudah hilang cintanya ke kamu. Maafin aku,” ucapnya dengan lembut sembari bersalah.

“Ara, sehat-sehat di sana. Jangan sampai sakit.” Nando menambahkan.

Saat itu Ara juga bercerita bahwa semalam sebelum keputusan sepihak yang dia sampaikan, Ara bermimpi saat itu ia berjalan di tanah suci, seketika ada seseorang yang mengambil HP miliknya. Mengambil dengan perlahan dan beradab seakan barang tersebut miliknya. Dia mengejar dan nyaris diraihnya dalam hitungan detik. Namun, HP tersebut sudah diambil kembali dengan seseorang yang berbeda. 

“Apa ada seseorang yang menggantikan posisiku di hatinya?” gumam Ara dalam hati.

Dua hari berikutnya seorang sahabat menghubungi Ara. Dia kaget melihat foto Nando di story berpose sedekat itu bersama perempuan lain.

Sejak itu, Ara semakin berfikir tentang pria yang baru saja meninggalkannya. Bagaimana bisa dengan perempuan itu? Yang jelas-jelas saat awal menjalin hubungan dengannya, Nando bercerita tidak menyukai perempuan tersebut karena agresif. Dan yang terjadi saat ini adalah pria kesayangan menjalin hubungan dengan perempuan tersebut. 

“Apakah benar yang dikatakan Nando? Atau apakah aku saja yang baru mengetahui sisi keburukan Nando? Padahal selama menjalin hubungan denganku, kita selalu menjaga agar tidak saling berlebihan, foto berdekatan saja tidak pernah. Nah, sekarang malah dia mengkhianati ucapan dia sendiri”, tanya Ara dalam batinnya.

Saat ini, Ara mengikhlaskan semua yang terjadi dalam hidupnya. Dia juga tidak berusaha untuk memblokir nomer atau akun sosial miliknya. Biarlah waktu akan menyembuhkan. Ara mengikhlaskan Nando berbahagia di atas kesedihannya. Dia bersyukur jika akhirnya pria tersebut menemukan kebahagiaan dengan hidupnya yang baru.

Namun, terkadang Ara termenung dan memikirkan beberapa hal tentangnya, “gimana ibadahnya disana. Semoga tidak terputus rahmat-Nya dan mendapatkan hidayah. Berhati-hati dengan harta,tahta, wanita. Aku hanya bersedih, namun tidak mendendam. Aku tidak memaksa diriku untuk melupakanmu, tapi aku akan mengikhlaskan kepergianmu. Semoga Allah menukar innerchild kita dengan kebihupan yang lebih bahagia di masa depan. Untuk kisah ini biarlah menjadi cerita untuk anak cucu kita kelak.”

Penulis: Syakila Azzahra, salah satu penulis buku antologi Bahagia itu Sederhana dan Kumpulan Surat untuk Ayah Ibu. Kontributor dapat dihubungi melalui email syakila.socialmover@gmail.com istagram @syakilasocialmover