Bibit, Bebet, Bobot: Mengintip Peran Biokimia dan Agama dalam Menjaga Keturunan Sehat Berkualitas

conk, mon nyareah binih reah se penter, mon raddin reah bisa e poles (nak, jika mencari isteri yang pintar, krn cantik itu bisa didandani…

Menikah dengan seseorang yang kita cintai termasuk salah satu idaman setiap insan manusia. Tidak hanya dari kalangan wanita saja terlebih juga impian kaum laki – laki. Diharapkan dari suatu pernikahan akan terbentuk keluarga sakinah, mawaddah, warohmah. Ucapan doa tersebut selalu dilontarkan pada orang yang telah melakukan ijab qobul. Bahkan dari pernikahan tersebut jika suatu saat nanti dikaruniai amanah, memiliki keturunan yang soleh dan soleha. Keluarga seperti inilah yang mungkin menjadi idaman setiap insan bahkan diseluruh seantero muka bumi tempat keberlangsungan manusia hidup. 

Problematika yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari – hari ialah banyaknya pasangan muda – mudi ketika mencari jodoh sembarang asal mencari, tak heran jika akhir – akhir ini kasus penceraian di Indonesi begitu tinggi. Berdasarkan data Kemenag per Agustus 2020 sudah mencapai 306.688 kasus. Kasus tersebut tidak boleh terus menerus melonjak, bahkan kalau bisa ditekan serendah mungkin agar setiap tahunnnya tidak begitu membludak. Pentingnya penyuluhan pernikahan kepada masyarakat agar lebih edukatif dalam menggapai mahligai rumah tangga dalam hal mencari pasangan hidup perlu di treatment sejak dini mungkin sebelum kasus penceraian semakin tinggi.              

Peranan Agama dalam Memilih Jodoh

Anak-Anak bersama Ibu.

Para tokoh agama, guru dan lingkungan sekitar harus ikut andil memberikan kontribusi terhadap para muda – mudi yang lagi mabuk asmara terutama dalam hal mencari jodoh. Memang jodoh itu sudah digaris bawahi oleh sang pencipta. Artinya sejak manusia itu lahir kedunia terkait masalah jodoh sudah ditentukan dalam Lauhul Mahfuzh. Setidaknya, dalam hal ini agama islam sudah memberikan kriteria ataupun arahan terkait pencarian pasangan hidup, yang diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Walinasabihe

Kriteria yang pertama ialah dilihat dari walinasabihe atau nasabnya. Nasab disini memiliki arti bahwa dalam mencari pasangan harus tahu dulu filogenifnya atau susunan strata asal – usul keturunannnya sehingga tidak ada penyesalan diakhir pernikahan ketika terdengar sesuatu hal yang tidak kita inginkan. 

2. Walijamalihe 

Manusia memiliki sifat jemu dan mudah bosan sehingga dalam hal mencari pasangan hidup harus mencari kriteria sesuai dengan kecantikan/ketampanannnya (walijamalihe). Sangat manusiawi jika seseorang memilih pasangan yang dilihat pertama kali adalah fisiknya karena pada dasarnya manusia menyukai keindahan. Atas dasar itulah kriteria ini penting untuk diperhitungkan agar kita tidak mudah tertarik ke selain pasangan kita. Artinya, dimata kita pasangan sendiri merupakan seseorang dengan paras cantik dan rupawan yang paling tampan dibandingkan dengan orang lain. Sehingga dalam hati sudah tertanam keyakinan.

3. Walidinihe

Agama merupakan kepercayaan seseorang dalam menjalani kehidupan. Karena dengan agama kita bisa membedakan mana yang baik manapula yang buruk. Agama juga memberikan aturan – aturan tatanan kehidupan dalam menjalani kehidupan sehari – hari. Sehingga dalam islam menacari pasangan hidup haruslah yang se iman. Karena dengan pernikahan yang se iman akan memiliki satu ajaran yang serumpun. 

4. Limanihe 

Manusia hidup membutuhkan materi demi keberlangsungan sehari – hari. Jadi, sangat wajar ketika manusia dalam mencari pasangan melihat dari harta/kekayaannya (limanihe). Dengan harta yang dimiliki saat ini harapannya ialah manusia lebih khusuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa. Kita tidak disibukkan untuk mencari harta sampai lupa waktu sehingga lupa pada Sang Maha pencipta. Selain itu, menafkahi keluarga wajib hukumnya, dengan kekayaan yang melimpah maka lebih mudah menunjang dalam memenuhi kebutuhan hidup. 

Ayah bermain dengan anak

Memang empat kriteria diatas tidak mudah untuk kita gapai semuanya, karena manusia diciptakan untuk saling melengkapi, menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Setidaknya manusia lebih komprehensif dan selektif dalam mencari pasangan, tidak asal mencari dan perlu kriteria khusus yang mewakili salah satu diantara ke empat kriteria tersebut. Apa yang mewakili salah satu diantara ke empat kriteria di atas?

Dari Abi Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Wanita itu dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Namun dari empat itu paling utama yang harus jadi perhatian adalah masalah agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat." (HR. Bukhari Muslim). 

Ketika seseorang menikahi karena agamanya, secara tidak langsung akan berbanding lurus terhadap kehidupan sehari – harinya terutama dalam masalah keimanan. Karena dengan keimanan inilah yang mampu membawa manusia kearah yang lebih baik, baik kehidupan dunia lebih – lebih kehidupan akherat. Faktor agama telah memberikan gambaran bahwa dengan mengedepankan kehidupan akherat, maka kehidupan duniawi akan mengikuti dengan sendirinya.

Ibu sedang berinteraksi dengan anak

Nabi mengabarkan tentang apa yang menjadi kebiasaan orang – orang terdahulu yaitu dalam urusan pernikahan, di mana mereka memandang dari empat perkara ini. Dan menjadikan perkara agama sebagai kriteria terakhir. "Oleh karena itu, pilihlah wanita/pria karena agamanya yang baik niscaya akan beruntung". Apabila kita sudah berusaha memenuhi salah satu diantaranya (agamanya), bukan tidak mungkin kita akan menjadi manusia yang beruntung seiring berjalannya waktu sesuai dengan kriteria diatas. 

Keselarasan Ilmu Sains dan Ilmu Agama

Perpaduan antara ilmu agama dan sainst memang berjalan selaras dan imbang. Mengapa tidak? Jika ditinjau dari segi agama, ke empat kriteria tersebut memang tidak ada salahnya. Bahkan dalam ilmu sains sekaligus memiliki koprehensif yang memang tidak jauh berbeda. Misalkan saja jika kita menginginkan keturunan yang baik dan pintar, tentu kita harus lihat dulu philogenifnya seperti apa (strata keturunannya). Karena bibit, bebet dan bobot seseorang pasti tidak jauh berbeda dari babonnya. Dalam hal ini faktor genesitas memang sangat pengaruh terhadap sikap atau karakter dan kepintaran generasi berikutnya.

Saya masih ingat betul apa yang dilontarkan guru biologi saya waktu masih duduk di bangku sekolah menengah atas yang mengatakan bahwa ‘’ conk, mon nyareah binih reah se penter, mon raddin reah bisa e poles’’ [nak, (sebutan anak laki) jika kamu mencari isteri itu yang pintar, karena cantik itu bisa di dandani].

Kromosom X dan Y

Ilmu genetika menjelaskan bahwa kecerdasan seorang anak sekitar 40% hingga 60% dipengaruhi oleh faktor genetik. Meskipun kecerdasan anak hampir dipengaruhi oleh faktor genetik, bukan berarti manusia dengan kecerdasan biasa – biasa saja tidak bisa menjadi lebih baik. Karena sejatinya otak yang memprakarsai kecerdasan bekerja secara menyeluruh bukan secara parsial sehingga ada peluang untuk bisa merubah lebih baik. Salah satu diantaranya ialah faktor lingkungan.

Faktor lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap kecerdasan seorang anak. Karena perilaku seorang anak lebih mudah meniru terhadap lingkungan sekitar. Disini pentingnya peran orang tua dalam membimbing, mendidik dan memberikan pelayanan pendidikan yang lebih baik sangat diperhitungkan karena menjadi kunci utama untuk perkembangan kecerdasan. Selain faktor lingkungan ada juga keseimbangan makanan yang dikonsumsi dalam kehidupan sehari – hari yang berpotensi mempengaruhi tumbuh kembangnya kecerdasan seorang anak. 

Peranan Gen Seorang Ibu dan Ayah

Keistimewaaan seorang ibu yang tidak dimiliki oleh seorang ayah ialah bahwa seorang ibu memiliki dua kromosom X, sedangkan ayah hanya memiliki satu kromosom. Hal inilah yang menjadikan seorang ibu lebih dominan dalam mewariskan kecerdasan intelektualnya dibandingkan seorang ayah. Oleh sebab itu, peranan seorang ibu untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi sangat penting. Karena dengan pendidikan yang lebih tinggi seorang ibu lebih berinteraksi, bersosialisasi dan berkolaborasi dengan orang lain untuk berfikir yang mana secara langsung akan mengasah otak dengan sendirinya.

Warna kulit adalah ekspresi fenotif gen 

Pepatah Madura mengatakan ‘dhe’ remma se penterrah, mon oteggeh tak eyassa. Padena so todik, mon tak e gengseh tak kerah tajem’ (Mana mungkin bisa pintar, kalau otaknya tidak di asah. Sama halnya dengan pisau kalau tidak pernah di bersihkan tidak bakalan tajam). Ibu merupakan madrasah pertama kali untuk anak – anaknya. Sehingga ibu harus berpendidikan tinggi agar bisa menjadi guru untuk anak – anaknya kelak. Bagaimana mungkin menghasilkan generasi yang excellent kalau ibu – ibu tidak menempuh pendidikan yang lebih tinggi. So, carilah pasangan hidup karena agama dan pendidikannnya karena dalam surat Al – Mujadalah 58 ayat 11 Allah menjelaskan keutamaan orang – orang yang beriman dan berilmu yaitu Allah akan mengangkat derajat manusia yang beriman dan berilmu sedemikian derajat. 

Penulis:
Ratno Budiyanto
mengajar di smkbinahusadapmk.sch.id