Glukomanan Dulu, Kini dan Nanti: Potensi Pertanian dan Industri Porang (Amorphopallus oncophyllus)

Berdasar pengalaman Marnianto, pembiayaan untuk penanaman Porang hingga sewa tanah sebesar Rp. 90 juta. Jadi untung sebesar Rp. 190 juta.…

Sekitar 14 tahun yang lalu pertanian Porang (Amorphopallus oncophyllus) masih tidak terbayangkan akan booming seperti sekarang di kalangan petani. Ketika penelitian Glukomanan dilakukan mahasiswa Yennis Tri Rahayu, Imro'atul Khasanah, Luqi Khoiriyah pada 2007-2009  atas bimbingan Drs. Achmad Sjaifullah, M.Sc. PhD. dari MIPA Kimia Universitas Jember, rujukan yang digunakan  waktu itu kebanyakan menggunakan referensi yang ditulis peneliti Jepang.

Target dari rangkaian penelitian tersebut yaitu purifikasi Glukomanan dari umbi Porang dan aplikasinya sebagai edible coating  (pelapis bisa dimakan) dan ketahanan pangan yang bisa diperoleh dari penggunaan edible coating tersebut. Bahan pangan yang diujikan yaitu buah langsep dan manisan tomat.

 Jepang menggunakan tepung konjak itu untuk industri antara lain, bahan agar-agar, kosmetik, campuran bakso, campuran bahan obat dan bahan-bahan industri lainnya. Sementara kita di Indonesia masih mengekspor dalam bentuk chip.

Jepang mengolah tepung Porang menjadi shirataki, yang diapakai campuran beras, mie, bakso atau lainnya. Beras shirataki di supermarket premium Jakarta  mencapai Rp. 160.000 per kg.

Sekarang setelah bertahun-tahun berlalu, kini para petani kita telah menemukan jalan ke industrialisasi tanaman Porang beserta bisnis sampingan atas pengelolaan Porang ini. Dulu bibit Porang seharga Rp. 25.000 per kg sekarang bisa mencapai Rp. 300.000 per kg karena begitu banyak yang mencari.. Harga jual umbi sekarang kisaran Rp. 12.000 per kg dengan biaya tanam Rp. 3.000 per kg.

Glukomanan di dalam Umbi Porang

Tanaman Porang ini mengandung senyawa Glukomannan.  Proses membuat tepung Porang adalah proses mekanika. Oksalat di umbi harus dibuang dulu karena ini sebagai penyebab gatal sehingga umbi tidak bisa dikonsumsi langsung.

Penelitian oleh Imro'atul Khasanah untuk mempurifikasi glukomanan dari umbi Porang menggunakan pelarut berbeda dihasilkan produk tepung yang berbeda warna.

Tepung Porang kering dari pelarut air. Foto: Imro'atul

Pabrik pertama Porang didirikan di Pasuruan yang dimiliki oleh Jepang. Kemudian diikuti pabrik baru yang didirikan pengusaha lokal tetapi mesinnya masih impor. Lulusan teknik mesin salah satu universitas di Malang Jawa Timur, Hamzah mampu menciptakan mesin pemisah oksalat dan glukomanan dengan kisaran harga Rp. 400 juta, sebagai alternatif mesin impor yang harga impor mesin sebesar Rp. 1,5 Milyar.

Tepung Porang kering pelarut metanol 100%. Foto: Imro'atul

Pabrik Porang banyak dibangun, terakhir di Caruban dengan kapasitas tampung 60 ton/jam.

Bentuk fisik umbi Porang ini berupa umbi besar berat bisa mencapai 7 kg dengan tengah agak cekung, warna umbi kuning dan bergetah yang menyebabkan gatal jika getah terkena kulit. Porang ini mirip dengan tanaman lain, seperti suweg, akan tetapi suweg tidak terlalu gatal dan bisa dimakan. Menurut Syaefullah (1991), jenis iles-iles di Indonesia antara lain A. Variabilis, A. campanulatus dan A. Oncophyllus. 

Marnianto Pahlawan Porang

Salah satu pertanian Porang dilakukan di Desa Temon, kecamatan Ngrayung, Kabupaten Ponorogo oleh Marnianto, pensiunan Guru. Seperti yang diceriatkan dalam podcas Dahlan Iskan. Marnianto kali pertama menanam porang menggunakan umbi daun yang dibeli seharga 25.000 per kg. Umbi daun ini sering disebut katak karena bentuknya mirip anak katak kecil. Satu tanaman Porang biasanya mempunyai cabang daun 3,  dari satu daun bisa menghasilkan 40 umbi daun. Satu tanaman porang menghasilkan benih porang sebanyak sekitar 1/4 kg. Tanah seluas 1 hektar membutuhkan benih 250 kg.

Berasal dari 1 kg bisa menjadi kisaran 150 tanaman Porang. Cara menanam yang relatif mudah. Tunas ditanam di tanah dilubangi 10 cm , dapat menggunakan kompos untuk pupuk. Perlu diperhatikan juga untuk pertumbuhan maksimal tanaman Porang sebaiknya dibuat lubang selebar 30 cm untuk pertumbuhan maksimal tanaman ke arah samping dan dalam. Pupuk kompos per lubang dibutuhkan kisaran 1 kg.

Marnianto beralih ke porang yang sebelumnya bertani jabon, jarak kemudian sengon laut. Kegagalan tersebut bisa dibilang selama 15 tahun, tetapi hasil yang diperoleh dari panen Porang telah berhasil mengajak petani beralih ke Porang.

Salah satu hasil panen yang pernah diperoleh sebesar 290 juta rupiah dari pengelolaaan 5 hektar. Pembiayaan untuk penanaman hingga sewa tanah sebesar 90 juta rupiah. Jadi untung yang diperoleh sebesar 190 juta rupiah.

Umbi Porang. Foto: Imro'atul

Memulai Bertanam Porang

Permulaan porang diawali sendiri oleh Marnianto karena petani-petani daerah tersebut sudah kapok terhadap kegagalan penanaman pohon jarak. Menurut mereka tanaman Porang  ini tanaman yang tidak bisa dimakan dan tidak ada bagusnya jika berkembang susah mematikan, sehingga mereka menunggu Marnianto memperlihatkan hasil dari bertanam Porang.

Marnianto memulai dengan 2 kg kemudian menghasilkan 4 ton umbi Porang. Menurut Marnianto dalam menanam Porang pertama kali tahun pertama belum bisa dipanen umbinya, karena masih kecil. Perlu diingat kembali bahwa nilai komersial tanaman Porang ini terletak pada umbi dan umbi daun. bahkan pernah menghasilkan umbi 14 kg berumur 3 musim.

Simak juga berikut video antara Dahlan Iskan dan Marnianto yang menceritakan proses memulai bertani Porang hingga berhasil, dalam video di kanal DI's way.

Penghasilan dari bertanam Porang juga bisa didapat dari tanaman yang ditanam di sela-sela Porang, seperti kacang tanah atau singkong. Marnianto  menghitung dan membuat rumusan untuk keberhasilannya bertanam Porang. Porang yang dihasilkan nanti minimal harus 2kg per umbi. Jatah 1 kg untuk biaya tanah (perawatan, pengembalian kesuburan, dan produksi) sedangkan 1 kg lain untuk investor.

Masa Depan Porang

Kalau dulu hanya daerah Jawa Timur, Nganjuk, Grobogan, Madiun. Sekarang telah menjadi perhatian banyak daerah dan investor, sumbawa pun telah berpraktik Porang. 

Apakah nanti harga tetap bagus dan kesejahteraaan petani yang dinikmati sekarang akan menurun kemudian tergerus industrialisasi? Terlebih adanya omnibus law menjadikan investasi tidak terbendung dengan kapitalisasi modal.

Penulis: Luqi Khoiriyah