Hutan Mangrove dan Daya Dukung Ekonomi Masyarakat

No H. I./4/18/75 tentang jalur hijau, yaitu selebar 400 meter di daerah ganas pantai. Jarak tersebut sebagai kawasan perlindungan pantai…

Hutan Mangrove dalam kaitannya dengan fungsi ekologi, adalah peranannya dalam pengendalian banjir dan erosi pantai, stabilitas sedimen, perlindungan terhadap terumbu karang dari pengaruh banjir dan daratan, suplai bahan organik dan hara, penyediaan nutrien, serta sebagai tempat hidup dan berlindung, bertelor, tempat asuh dan berkembangnya larva ikan dan udang yang memiliki nilai ekonomi tinggi (Srivastana, et. al., 1980).

Keberadaan Mangrove penting untuk ekosistem pesisir. Hal ini dikarenakan saling keterkaitan antara beberapa ekosistem pesisir seperti terumbu karang, alga, padang lamun. Kerusakan sau ekostem maka akan berdampak pada ekosistem lainnya.

Hutan mengrove sering menjadi fokus perhatian utama karena memberi peran ekologi yang dominan seperti, erosi pantai, memberi perlindungan terumbu karang, tempat bertelur hidup tumbuh, dan sering sebagai tempat berkembang lava ikan dan udang, (Srivastana et al.,1980). biasanya penyusun terbesae dari hutan mngrove adalah Bakau. Berdasar luas hutan bakau dunia, luas hutan bakau Indonesia mencakup 23% yaitu sekitar 3 juta hektar, (CIFOR, 2015). 

Keberadaan hutan Mangrove pada lingkungan pesisir merupakan pertahanan terhadap masuknya air laut ke daratan. Lingkungan ini merupakan ekosistem kompleks terdari dari banyak ekosistem. Hal ini sering disebut berkaitan dengan fungsi ekologis erosi pantai, dan penghadang banjir.

Masyarakat pada dasarnya  memahami peran penting dari  hutan mangrove, karena mangrove tumbuh di sekitar lingkungan mereka hidup bermasyarakat. Kebutuhan keseharian masyarakat sekitar magrove juga dibantu oleh sumberdaya Mangrove. Diketahui hutan Mangrove digunakan oleh hewan-hewan pesisir untuk tumbuh dan berkembang. Hal ini juga menguntung mereka untuk mendapatkan makanan dan kayu Mangrove. Seiring kecepatan pertumbuhan penduduk tidak sebanding dengan kecepatan pertumbuhan hutan Mangrove, sehingga akhirnya tersingkir karena rusak atau pengalihfungsian.

Perubahan Fungsi Hutan Mangrove

Perubahan jaman menyebabkan pergeseran budaya, sehingga cara menjaga dan memahami peran hutan mangrove berbeda antara generasi satu dengan lainnya. Semakin lama kondisi (kualitas) hutan mangrove mengalami perubahan baik peningkatan kualitas maupun penurunan. Perubahan ini membutuhkan suatu parameter, sehingga bisa terukur penurunan kualitas yang sedang terjadi.. Pengawasan dan pemeliharaan mem butuhkan peran serta pemerintah, karena prose pengawasan dalam upaya meneliti atau mengkur perubahan kondisi lingkungan sumberdaya pengetahuan masyarkat terbatas. Keberadaan peran pemerintah akan membuka berbagai peluang kerjasama akan lebih terbuka, semisal dengan universitas. 

Perubahan fungsi menjadi tambak juga jadi permasalahan umum. Di sisi lain masyarakat memang membutuhkan sumber ekonomi. Diketahui tambak sebagai salah satu sumber utama pendapatan masyarakat pesisir. 

Kondisi hutan Mangrove foto: Novia

Selain kerusakan karena pengalih fungsi menjadi tambak, kerusakan hutan Mangrove disebabkan oleh sampah. Pertambahan penduduk ini semakin menggeser keberadaan hutan Mangrove. Salah satu yang menjadi penyebab kerusakan adalah menumpuknya sampah. Jumlah sampah yang semula berjumlah sedikit masih bisa direcovery secara alami oleh hutan Mangrove. Bertambahnya jumlah sampah akhirnya merusak kualitas dari lingkungan hutan Mangrove, sehingga kemudian terjadi kerusakan dari habitat berbagai organisme di lingkungan tersebut.

Kebiasaan masyarakat yang membuang sampah sembarangan akan menimbulkan masalah yang serius. Hutan Mangrove yang rusak maka kerusakan yang ditimbulkan akan merugikan masyarakat sendiri.

Berdasar data dari Dokumen Informsai Kinerja Lingkungan Hidup Daerah provinsi Jawa Timur tahun 2017, bahwa melalui parameter Baku Mutu Air Laut (BMAL) berdasarkan pada Keputusan

Menteri Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004, maka tingkat kecerahan untuk beberapa pelabuhan melewati baku mutu. Deterjen atau Methylene Blue Active Substance (MBAS) yang ditemukan menunjukkan bahwa polutan dari limbah domestik tersebut langsung dibuang ke wilayah sungai atau perairan berakibat pada pencemaran perairan laut.

Jika Hutan Mangrove Rusak

Seperti yang disebutkan di atas bahwa Mangrove merupakan tempat berkembang biak larva ikan dan udang. Lambat laun mereka akan mati. Sumber  ekonomi pun berkurang Setelah kematian para pelindung pesisir maka ai laut akan dengan mudah mengenai daratan.

Keberadaan sampah ini akan mengotori air. Kemudian menghambat tumbuhan dan organisme hutan Magrove untuk mendapat makanan. Masyarakt sendiri yang dirugikan yang semula mudah mendapatkan ikan makan di masa mendatang akan kehilangan sumber makanan tersebut.

Penanaman kembali Hutan Mangrove

Gerakan-Gerakan pemeliharaan hutan Mangrove banyak bermunculan. Sebagian konsisten, sebagian muncul kemudian hilang. Meskipun demikian hal ini adalah tanda kesadaran masyarakat akan lingkungan khususnya hutan Mangrove. Pemerintah melalui lembaga penyuluhan penting terlibat dalam hal ini.

Terdapat banyak peraturan dalam hal perlindungan daerah pesisir pantai ini seperti oleh Direktorat Jenderal Perikanan, No H. I. /4/18/75 tanggal 22 November 1975 tentang jalur hijau, yaitu selebar 400 meter di daerah ganas pantai. Jarak  tersebut sebagai kawasan perlindungan pantai, sehingga pertumbuhan tumhuban dan hewan pantai dapat terlindungi dari kerusakan. 

Pembibitan mangrove dapat pula dilakukan pada area tersebut. Pembibitan Magrove sangat rawan rusak, karena bayi-bayi Mangrove tersebut bisa terkena ombak jika penahannya kurang kuat. Oleh karenanya keterlibatan masyarakat akan sangat membantu untuk menumbuhkan dan merawat hutan Mangrove ini. 

Penulis: Novia Rosa Damayanti