Jasa Lingkungan Hutan: Kontribusi Produk Ekonomi-Ekologis bagi Pembangunan Berkelanjutan (Review buku bagian 1)

Perubahan suhu dan kelembaban lingkungan memberi efek dominan terhadap perilaku virus dan bakteri menyebabkan penyakit pada manusia....…

 

Perubahan suhu dan kelembaban lingkungan memberi efek dominan terhadap perilaku virus dan bakteri menyebabkan penyakit pada manusia....

Buku ini dituliskan oleh para ahli di bidang kehutanan seperti ditampilkan pada gambar di atas. Keberadaan buku ini menjadi penting sebagai salah satu penjelasan akan pentingnya hutan karena terjadi di kerusakan hutan milik Indonesia. Hutan sendiri merupakan ekosistem yang lengkap,  sumber terbesar oksigen, selain itu hutan sebagai penyerap polusi yang paling efektif. Informasi penting dari tulisan ini akan sulit tersampaikan jika para pembaca tidak memahami makna penting dari informasi yang terkandung. Akan lebih baik buku ini dibaca oleh berbagai kalangan, sehingga pengelolaan dan pengawasan kan hutan dilakukan bersama.

Penting untuk dibaca

Buku ini sarat dengan informasi penting. Dijelaskan dari sudut pandang ahli kehutanan. Meskipun demikian bahasa yang digunakan tampak diupayakan dapat diterima masyarakat sehingga memahami arti penting hutan. Memang, dengan halaman sejumlah 214 membutuhkan waktu untuk menyelesaikan, belum lagi untuk memahami secara mendalam.

Pemaparan ulang akan buku berjudul Jasa Lingkungan Hutan: Kontribusi Produk Ekonomi-Ekologis bagi Pembangunan Berkelanjutan ini membutuhkan kritikk dan saran dari pembaca untuk perbaikan seri-seri berikutnya. Direncanakan review buku ini terbagi atas 6 seri. Berbagai sudut pandang untuk memahami isi buku ini dibutuhkan, karena hal ini juga sebagai seruan kepada masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan kepedulian dan pengawasan akan hutan, sehingga dalam pengelolaannya berkeadilan.

Para Penulis Buku Jasa Lingkungan Hutan

Membaca sebagai jendela dunia

Di sisi lain seperti yang umum diketahui, membiasakan membaca buku lebih berat daripada membaca berita. Ditambah lagi jika masyarakat merasa bukan tugas mereka untuk tahu suatu isu atau merasa berat memhami hal yang sebenarnya penting bagi masyarakat. Oleh karena itu penulis merasa perlu untuk mereview buku berjudul Jasa Lingkungan Hutan dengan pembagian beberapa seri untuk memudahkan pembaca atau meningkatkan ketertarikan pada bahasan hutan. Tentu saja diusahakan secara maksimal untuk tidak melenceng dari substansi buku tersebut.

Membaca sebagai jendela dunia. Ungkapan ini sangat umum kita dengarkan, akan tetapi jika dilihat dari data UNESCO 2012 minat baca Indonesia sangat rendah. Data yang diperoleh berdasar penduduk sejumlah sekitar 250 juta jiwa, yang suka membaca hanya 250 ribu. Perbandinganya diperoleh adalah 1:1.000. Sebanyak 1.000 orang penduduk Indonesia yang suka membaca hanya 1. 

1 Rukun Tetangga (RT) tidak ada yang membaca

Kita membuat suatu permisalan perhitungan. Jika penduduk surabaya berdasar Badan Pusat Statistik (BPS) 2017 sejumlah 2,8 juta artinya diwakili oleh 2.800 orang yang suka membaca. Jika dipermisalkan lagi tanpa melihat perbandingan luas wilayah terhadap penduduk, kita perbandingan 2.800 penduduk dengan jumlah kecamatan kota Surabaya sebanyak 31, maka di tiap kecamatan terdapat 90 orang yang suka membaca. Kemudian sebanyak 154 kelurahan yang dimiliki terdapat 18 dari setiap kelurahan yang suka membaca. Sekarang, berapakah jumlah yang suka membaca dari setiap Rukun Warga (RW) dari tiap keliurahan?

Setiap RW mempunyai Rukun Keluarga (RT) sebanyak 3-10 RT. Kita ambil 10 RT, maka dari 10 RT yang suka membaca sebanyak 1-2 orang. Kemudian tiap RT terdapat 10-50 kepala keluarga (KK) maka orang yang suka dari tiap KK sebanyak 0,2 jika KK yang digunakan 10 KK dari setiap RT. Setelah kita hitung dengan perkiraan data di atas maka dari setiap RT tidak ada yang suka membaca. Baru ada yang suka membaca ketika level setingkat lebih tinggi yaitu tingkat RW.

Melihat fakta yang demikian, menjadi peer bersama untuk menjadikan membaca buku sebagai hal yang menarik. Tentunya yang menarik harus dari sisi buku dan kegiatan membaca. 

Mengapa hutan Penting

Buku berjudul Jasa Lingkungan Hutan: Produk Ekonomi Ekologis bagi Pembangunan Berkelanjutan. Secara sekilas dari judul tersebut diakui bahwa hutan sebagai produk ekonomi yaitu sumber ekonomi (uang). Selain itu juga selain diharapkan sebagai sumber yang menerus, maka juga harus dilakukan merawat hutan, sehingga tetap menjalani tugasnya sebagai hutan dari sudut pandang ekologis. Kerjasama antara sisi ekonomi negara dan ekologis hutan maka akan diperoleh keuntungan dalam jangka panjang yaitu pembangunan berkelanjutan.

Masalah lain yang menjadi urusan bersama adalah deforestasi. Pengalih fungsi hutan.

Penjagaan dan perawatan hutan tersebut menjadi kewajiban pemerintah dan membutuhkan peran aktif masyarakat juga, akan tetapi masyarakat Indonesia secara mayoritas sudah terlalu sibuk dengan urusan kesejahteraan. Kerja hari ini untuk makan hari ini juga. Sistem kesejahteraan seperti ini jelas sekali sukar memberi ruang kepada mayoritas masyarakat kita untuk memahami data-data empiris tentang hutan. Penjelasan-penjelasan sederhana dan masuk akal sangat dinanti oleh masyarakat.

Kalangan terbatas mengetahui bahwa produk hutan Indonesia sangat menghasilkan “uang” dan tujuan ekspor adalah negara-negara besar seperti Singapura, Korea Selatan, Jepang, negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Jasa Lingkungan Hutan sebagai Pengendali Kesehatan Masyarakat

Pembahasan di bab 3 ini memaparkan tentang penyebab dan cara penyakit berpindah karena perubahan lingkungan. Hal ini berakibat pada penyesuaian manusia pada lingkungan. Proses penyesuaian tersebut ada kalanya dengan pengorbanan nyawa. Lingkungan memberi respon pada perubahan dengan peningkatan atau penurunan suhu dan kelembaban. Perubahan suhu dan kelembaban lingkungan ini memberi efek dominan terhadap perilaku virus dan bakteri yang menyebabkan penyakit pada manusia.

KTT Bumi pertama di Rio de Janeiro Juni 1992 berfokus pada pemanasan global, peningkatan polusi, penipisan lapisan ozon, degradasi dan deforestasi. KTT ini mengkampanyekan untuk “Think Globally, Act Locally”

Hutan di suatu negara secara hukum pemilikan dan pengelolaan berdasar hukum negara tersebut. Akan tetapi secara fakta kebermanfaatan suatu hutan sangat tinggi terhadap dunia. Terlebih hutan di Indonesia yang berjenis hutan tropis, dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Pembukaan hutan berarti mematikan berbagai ekosistem yang berada di hutan tersebut. Kemudian efek bahaya yang dihasilkan akan bermacam pula.

Perubahan alih fungsi hutan bermacam cara dan tujuan, contohnya menjadi perkebunan sawit, atau menjadi lahan pertanian. Permintaan industri juga menjadi tantangan bagi Indonesia. Permintaan tersebut dominan dari negara-negara maju, seperti  Singapura, Korea Selatan, Jepang, negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Kiranya kita bisa belajar dari bencana di Haiti. Efek dari degradasi lingkungan yang terjadi menyebabkan badai tropis pada musim hujan yang merusak lahan pertanian sebanyak 60% dan kematian kematian lebih dari 1000 orang (Rubenstein, 2012). Keanekaragaman hayati yang mulai punah berakibat pada punahnya musuh alami, kemudian akan diikuti munculnya mutan-mutan baru. 

Status Kesehatan Manusia akibat Pengrusakan hutan

terdapat dua cara yang diusulkan untuk mengendalikan perilaku perusakan ini. Pertama, pengembangan institusi non-pasar. Membangun dan mengembangkan tata aturan yang mengikat dan memberi konsekuensi sanksi. Indonesia termasuk yang ini karena masyarakatnya secara umum membutuhkan suatu aturan untuk mengarahkan perilaku mereka. Kedua, pengembangan institusi pasar. Negara maju cenderung menggunakan model kedua. Masyarakatnya sudah membudaya untuk berlaku tertib, karena tingkat kesadaran dan kepedulian tinggi.

Ironis bahwa permintaan akan produk hutan dari negara maju dimanfaatkan pihak tidak bertanggungjawab untuk merusak hutan. Keberanian perusakan ini karena aturan hukum yang diabaikan dan bisa dibeli.

Penulis: Luqi Khoiriyah