Krisis Iklim Ancaman Nyata bagi Umat Manusia

Alam adalah manusia besar, dan manusia adalah alam kecil”, ungkapan seorang filsuf yang hidup sekitar abad ke-5 sebelum masehi, Sokrates.…

“Dan kami menjadikan langit sebagai atap yang terpeliharan, namun mereka berpaling dari tanda-tanda (kebesaran Allah) itu (matahari, bulan, angin, awan, dan lain-lain). (Q.S Al-Anbiya, 21:32).

Bumi selaku rumah cinta bagi kehidupan manusia, rasanya telah mulai retak dengan perasaan yang tidak harmonis lagi. Bumi telah merubah sifatnya dengan lebih mengerikan dan tidak lagi ingin memposisikan diri sebagai tempat manusia berlindung.

Musim pancaroba sedang pada kondisi puncaknya. Siklus perubahan cuaca-pun jadi sulit untuk ditentukan. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hampir setiap waktu memberikan himbauan untuk selalu hati-hati dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. 

Pasalnya, keadaan lingkungan saat ini terus dihantui oleh cuaca yang begitu ekstrem; mulai dari angin kencang yang dapat menumbangkan pepohonan, hingga petir yang datang bersama hujan dengan suara yang menakutkan.

Rasa-rasanya, peristiwa penyambutan musim hujan sudah tidak sama lagi seperti yang terjadi pada masa dulu. Kegembiraan yang biasanya dirasakan ketika datang musim hujan menghampiri bumi telah diubahnya dengan sebuah kutukan. 

Manusia dan alam

Bumi Dulu dan Kini

Penulis masih ingat dengan jelas bahwa dulunya; anak-anak kecil, remaja hingga dewasa biasanya langsung menyeburkan diri ditengah rintikan air hujan yang membasahi. Menyambutnya dengan penuh suka-ria dan tentunya bersama rasa syukur yang penuh kekhusyukan. 

Namun sekarang keadaan telah berbalik, setiap individu merasakan kegelisahannya. Karena semua menjadi terasa berbeda. Siklus kehidupan telah beralih ke dalam penjara ketakutan. Hujan datang, musibah mengikuti; angin kencang, tanah longsor hingga daratan yang diluapi oleh air yang kotor.

Jika ditelisi dari sebabnya, perubahan siginifikan ini semuanya bermula dari hal yang sangat sederhana seperti penggunaan plastik sekali pakai yang berlebihan, penggunaan energi berbasis karbon yang tinggi, hingga pada sesuatu yang sangat kompleks seperti pembabatan hutan hingga jutaan hektar.

Kasus demi kasus terkait krisis iklim terus muncul dalam berbagai platform media; online maupun cetak. Hal ini sekaligus jadi objek perbincangan hangat masa kini. Remaja-dewasa, lokal-nasional, dan bahkan dijadikan sebagai topik utama dalam forum-forum internasional.

Siapa kiranya hari ini yang tidak tau dengan isu krisis iklim? Salah satu yang menjadi fokus perhatian tiap manusia setelah politik dan ekonomi abad 21. Karena memang hal ini menyangkut dengan masa depan mereka, masa depan keturunan mereka; umat manusia.

Hukum Alam Mengancam Manusia

Gerakan demi gerakan terus terjadi. Organisasi terkait terus dihidupkan. Rasa optimis terus dibangkitkan. Namun semuanya masih saja sulit untuk dikendalikan, mengingat semuanya masih dibangun secara setengah tersadarkan. 

Padahal, manusia mempunyai tugas untuk menjaga dan merawat bumi sebagai huniannya. Ketika terjadi kebalikannya maka jangan heran jika manusia sendiri yang akan terkena imbasnya. 

Kondisi bumi kian memperihatinkan. Suhunya yang semakin meninggi, sumber oksigennya dikorupsi, air bersih ditutup mati, sampai lapisan ozon dilubangi. Sehingga banyak dari para futurolog yang memprediksikan bahwa kehidupan di bumi tidak akan lama lagi. Ancama-ancaman itu akan datang tidak kurang dari lima puluh tahun dari sekarang. 

Sejak tahun 1880 yang lalu, kenaikan suhu bumi sangat signifikan. Para peneliti mengatakan bahwa kenaikan suhu rata-rata tahunan sudah lebih dari 1 °C. Dan bahkan 2-3 dekade ke depan juga diprediksikan bahwa suhu bumi bisa naik lebih dari 1,5 °C dari biasanya.

Maka, perubahan iklim berkepanjangan di masa depan akan menjadi suatu hal yang niscaya, dan menjadi ancaman nyata bagi peradaban umat manusia. 

Degradasi Rasa Kemanusiaan

Alam adalah manusia besar, dan manusia adalah alam kecil”, begitu ungkapan seorang filsuf yang hidup sekitar abad ke-5 sebelum masehi, Sokrates.

Dewasa ini, kampanye isu lingkungan mungkin terus memarak dan berkembang. Hampir setiap “swa-story” media sosial mengkampanyekan hidup damai dengan lingkungan. Tapi tidak jarang dari mereka yang hanya mengankatnya demi konten story saja. Gerakan ikut-ikutan terhadap apa yang sedang viral dan hangat diperbincangkan.

Aksi Damai Aktivis Lingkungan

Lebih dari 90% orang Amerika mengaku diri sebagai orang yang peduli terhadap lingkungannya (environmentalists). Hal serupa juga terjadi di belahan bumi yang lain. Namun nyatanya, masih banyak juga masyarakat sekarang yang masih menggunakan alat transportasi yang menyumbangkan emis gas rumah kaca yang berlebihan, lampu-lampu yang terus dinyalakan pada siang hari, serta kebiasaan tidak menghabiskan makanan yang pada akhirnya menumpuk di tong sampah.

Mungkin bagi setiap orang memang bisa dikatakan mampu untuk membayar itu semua. Pemakaian air yang boros, dibalasnya dengan proses pembayaran yang selalu tepat waktu. Begitu juga dengan penggunaan listrik yang terlalu banyak memakan energi. Selalu diinisiasikan dengan menyediakan jumlah kuota listrik yang banyak pula.

Pola hidup yang serba tercukupi dianggapnya semua dapat diselesaikan dengan materi (uang). Namun rasanya, sisi kebaikan hati nurani kita yang paling dalam sudah mulai terdegradasi.

Sebagai manusia, sudah seharusnya sadar bahwa yang dilakukan itu sudah sangat jauh dari sifat kebaikan yang dipancarkan oleh Tuhan. Gelar khalifah (pemimpin/penjaga/pengayom) sebagai penjaga alam semesta rasanya sudah mulai sirna. 

Ketika melakukan sesuatu, semestinya manusia mengukur itu secara proporsional. Kendati demikian, tidak jarang dari kita yang menganggapnya sebagai hal yang “sepele” saja. Padahal kehidupan makhluk yang lain-lah yang jadi korbannya.

Penampakan dari atas kerusakan alam sisa tambang emas

Ketika kesadaran manusia dalam menjaga lingkungannya hanya sekelumit saja. Maka jangan heran jika bencana-bencana besar akan terjadi dalam perabadan kehidupan manusia saat ini. Dan semuanya bisa saja terjadi lebih cepat dari diperkirakan.

Oleh sebab itu, manusia sebagai wakil Tuhan seharusnya sudah mampu untuk membangun kesadaran secara kolektif, demi menjaga sirkulasi oksigen kehidupan yang harmonis baik dengan alam maupun makhluk yang lainnya.

Penulis:
Ahmadiansyah
Pegiat literasi di Uma Lierasi desa Risa, Bima, Nusa Tenggara Barat umaliterasi.blogspot.com