Maggot Black Soldier Fly (BSF): Nilai Ekonomi dan Solusi Sampah Organik

Maggot Lalat Tenntara Hitam memiliki nutrien yang baik, bisa dijual sebagai bahan pakan alternatif budidaya ikan, ayam serta ternak burun…

Seperti kata Soesilo Ananta Toer, Surplus Value Absolute, barang yang sudah tidak ada harganya bisa jadi bernilai.

Teori ini berlaku pula untuk Maggot Black Soldier Fly (BSF), larva biakan dari Black Soldier Fly. Nilai keuntungan dari Maggot adalah sampah menjadi punya nilai, termasuk diperebutkan.

Metamorfosis Lalat Tentara Hitam

Black Soldier Fly (BSF) atau Lalat Tentara Hitam dikenal pula dengan nama latin Hermetia illucens merupakan salah satu jenis lalat yang memiliki manfaat untuk kehidupan manusia. Ia memiliki fase hidup 7 hari, BSF bukan perantara penyakit karena dalam siklus hidunya ia hanya minum. BSF merupakan lalat bersih dan bersahabat, dalam tubuhnya mengandung zat antibiotik alami sehingga tidak membawa agen penyakit.

Maggot lalat tentara hitam

Siklus hidupnya yang cepat memaksa BSF untuk segera bereproduksi. Setelah melakukan mating (kawin), seekor betina BSF dapat bertelur 500 – 900 butir telur larva. Hingga mereka menetas dan menjadi larva/Maggot. Maggot BSF hanya memakan hal-hal yang bersifat organik termasuk sampah rumah tangga seperti sisa sayuran atau sisa makanan. Kemampuan konsumsinya pun tergolong luar biasa, untuk 750 kg Maggot dapat mengurai 2 ton sampah organik selama 2 – 3 minggu. Tentu ini menjadi solusi untuk mereduksi jumlah sampah yang tiap hari makin menggunung.

Dikutip dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2017), jumlah sampah yang dihasilkan di Indonesia tiap tahunnya mencapai 64 juta ton. Komposisi sampah terbanyak didominasi oleh sampah organik yang mencapai hingga 60% dari total sampah.

Sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jember

Sementara itu, di TPA terbesar di Kab. Jember yaitu TPA Pakusari dengan luas 6,8 hektar, dapat menampung 1.406 meter kubik tiap harinya (Jatim Antaranews, 2016). Jumlah tersebut dapat meningkat seiring waktu. Masih dilansir dari Jatim Antaranews, komposisi sampah yang ada di TPA Pakusari meliputi sampah organik 81,90 %, non-organik 13,6 % dan sampah beracun B3 4,5 %.

Data-data di atas menunjukkan urgensitas pengelolaan sampah, utamanya yang didominasi sampah organik. Selama ini, sampah organik maupun anorganik sudah diolah dengan beragam cara. Sampah anorganik direduksi dengan didaur ulang menjadi produk ataupun beragam jenis kerajinan sedangkan sampah organik diolah menjadi pupuk/kompos bahkan dapat juga dimanfaatkan sebagai biogas yang berasal dari tumpukan sampah yang menghasilkan gas metana. Namun, pengelolaan yang setengah-setengah dan nir-komitmen hanya akan menimbulkan masalah baru. Selain itu, perlu pula adanya inovasi baru untuk memunculkan variasi produk baru dari sampah. Salah satunya adalah dengan beternak Maggot BSF.

Sisi Ekonomi Maggot yang Menjanjikan

Beternak maggot. Foto: Lazismu

Beternak Maggot BSF cukup mudah dan menjanjikan. Masa panennya yang relatif cepat, sekitar 10 - 24 hari. Tidak pula membutuhkan lahan yang luas, tidak memerlukan teknologi yang canggih apalagi teknik tertentu sehingga semua orang bisa melakukannya. Dan yang paling penting tidak memerlukan biaya yang banyak. Pakannya pun cukup diberi limbah organik yang berasal dari sampah rumah tangga ataupun pasar.

Maggot BSF bisa dijual sebagai bahan pakan alternatif baik itu untuk budidaya ikan, ayam maupun ternak burung. Apalagi untuk budidaya ikan yang bahan pakannya masih mahal. Alternatif pakan Maggot ini menjadi salah satu solusi. Maggot BSF memiliki nutrien yang baik untuk perkembangan kualitas ikan. Dilansir dari Mongabay.co.id, nutrisi yang terkandung dalam Maggot dapat dikatakan cukup tinggi yang terdiri dari 41-42% protein kasar, 31-35% ekstrak eter, 14-15% abu, 4,18-5,1% kalsium, dan 0,60-0,63% fosfor dalam bentuk kering. Untuk masa panennya sendiri cukup singkat sekitar 10 – 24 hari, dapat berkesinambungan menjamin ketersediaan sepanjang waktu sehingga dapat memenuhi kebutuhan pakan ikan. Selain itu, juga aman karena Maggot bukan vektor penyakit.

Lazismu Jember Peduli UMKM Maggot

Pemberdayaan peternak maggot dilakukan oleh Lazismu di desa Kasmaran, berikut video kunjungan ke tempat tersebut.

Melihat potensi tinggi yang dimiliki pembudidayaan Maggot BSF, Lazismu Jember tidak segan-segan memberikan bantuan UMKM kepada peternak Maggot BSF, Ahmad Hidayat Baihaqi. Bantuan senilai 2.5 juta diberikan kepada Baihaqi untuk mengembangkan ternak Maggotnya.

Pemuda yang kini berusia 22 tahun itu memang sudah aktif di dunia peternakan. Mulanya ia beternak ayam hingga lele, dari coba-coba itulah ia mulai berkenalan dengan dunia Maggot. Bahkan ia belajar mengembangkan keterampilannya secara otodidak. Hingga kini ia sudah dapat memanen 50 kg Maggot tiap minggunya. Ia pun mengaku sudah memiliki pelanggan tetap yang selalu memesan darinya untuk pakan burung miliknya. 

Bahkan ia pun sering kebanjiran order, hanya saja karena keterbatasan tenaga dalam mencari pakan sampah organik ia mesti menunda order. Dari satu tempat penetasan larva Maggot BSF, kini ia bisa membangun 3 tambahan lagi tempat penetasan. Baihaqi berencana mengembangkan bisnisnya ini dengan menambah karyawan.

Tidak hanya berhenti di situ saja, dari inspirasi yang diberikan oleh Baihaqi. Lazismu Jember mencoba mereplikasi budidaya serupa kepada peternak lain. Penerima manfaatnya Saiful Bahri, kali ini pemberdayaan ditingkatkan agar sustainable dan berjangka panjang.

Peternak maggot. Foto: Lazismu

Selain Maggot yang diternakkan terdapat juga budidaya ayam dan lele dalam ember. Maggot yang panen bisa dijual dan digunakan untuk pakan ayam dan lele. Selain itu, kotoran Maggot dan ayam dapat digunakan untuk pupuk tanaman. Sedangkan nutrisi lele dapat digunakan untuk nutrisi tanaman seperti bayam maupun kangkung. Dalam proses yang saling silang-menyilang ini harapannya dapat bertahan lama dan terus berkelanjutan.

Penulis: Lazismu Jember, kunjungi lazismujember.org