Meminimalkan Sampah Pangan: Mari Bersama Menghormati Bahan Pangan dan Makanan

Global Hunger Index (2019), tingkat kelaparan Indonesia di level serius, tetapi kenyataannya Indonesia juga penyumbang sampah makanan....…

Hari Pangan Sedunia diperingati tiap tanggal 16 Oktober. Dalam rangka memperingati hari pangan sedunia tahun 2020 ini, PATPI (Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia) mengajak seluruh masyarakat untuk mengurangi limbah sisa makanan (food waste) dan bahan pangan yang terbuang (food loss). Pada tahun ini, pesan tersebut ditujukan kepada pengusaha rumah makan, restoran, kantin dan jasa boga. Isi dari pesan PATPI pada hari pangan sedunia 2020, meliputi:

1. Sediakan pilihan porsi makan: kecil, sedang, besar

2. Sediakan pilihan level: tidak pedas, agak pedas, pedas dan sangat pedas. Tanyakan kepada pelanggan pantangan dan jenis makanan yang dihindari

3. Sesuaikan persediaan cadangan menu makanan agar tidak berlebih

4. Belanjalah bahan mentah secukupnya dan simpan sesuai dengan suhu yang semestinya, jaga kebersihan/sanitasi

5. Himbau pelanggan untuk tidak membuang makanan; masih banyak yang membutuhkan

Pesan-pesan tersebut berisi tentang tanggung jawab dalam mengkonsumsi pangan, lebih bijak dalam mengambil makanan dan jangan sampai membuang makanan. Terkadang sebagai konsumen kita merasa lapar mata, ingin makan ini dan itu, akhirnya makanan dan minuman tersebut tidak dikonsumsi kemudian terbuang sia-sia. Miris rasanya melihat makanan dan minuman yang masih layak dikonsumsi tapi terbuang sia-sia, padahal di luar sana masih banyak yang membutuhkan.

Pesan untuk masyarakat pada hari pangan sedunia 2020


Pesan PATPI pada hari pangan sedunia tahun ini, memang ditujukan kepada pengelola rumah makan atau restoran, akan tetapi bertujuan untuk memenuhi selera konsumen. Salah satu penyebab food waste adalah pangan tersebut tidak sesuai dengan porsi makan konsumen, misalnya dalam hal ukuran porsi makan, sehingga diberikan pilihan porsi makan sedikit, sedang dan banyak. Contoh lain dari hal tingkat kepedasan, tidak semua konsumen menyukai level pedas dan apabila tingkat kepedasannya tidak sesuai ekspektasi, terkadang para konsumen tidak menghabiskannya.

Indonesia penyumbang sampah makanan

Banyak orang yang merasa gengsi untuk menghabiskan makanan. Mereka takut dicap seolah rakus, kelaparan dan terlihat kurang sopan. Terkadang, ketika makan bersama pun, makanan tersebut tidak dihabiskan karena takut ada orang lain yang masih ingin mengkonsumsinya.

Menurut The Economist Intelligence Unit (EIU) pada tahun 2016, Indonesia merupakan penyumbang sampah makanan terbesar kedua di dunia. FAO (Food and Agricultural Organization) juga menyatakan sebanyak 33-50% makanan yang telah diproduksi, tidak dikonsumsi dengan semestinya. Sedangkan menurut Global Hunger Index (2019), tingkat kelaparan di Indonesia berada di tingkat serius dengan skor index 20,1. Hal ini bertolak belakang, Indonesia menjadi penyumbang sampah makanan, akan tetapi di sisi lain tingkat kelaparan di negara ini berada di tingkat serius.

Nasi yang Terbuang. Foto: Dini

Solusi mengurangi food waste dan food loss

Bagi konsumen yang menghargai proses sampai adanya pangan tersebut, pasti akan merasa miris dengan fenomena ini. Mungkin kita belum bisa mengajak semua orang untuk sadar diri dan bertanggung jawab dengan makanan yang ada di depan kita. Hal ini bisa dimulai dari kesadaran diri sendiri, tidak perlu malu untuk menghabiskannya karena ini merupakan bentuk dari menghargai proses sejak menanam hingga mengolahnya. Menghabiskan makanan juga menjadi bentuk tanggung jawab terhadap apa yang telah diletakkan di atas piring kita.

Sebisa mungkin, jangan sampai kita membuang makanan yang masih bisa dikonsumsi. Kalau dirasa memang tidak bisa menghabiskannya, kita dapat menyisihkannya terlebih dahulu, untuk bisa dikonsumsi lagi di lain waktu. Selain itu, kita dapat megolah makanan yang berlebih seperti menghangatkannya kembali atau mengolahnya menjadi produk pangan yang lain, sehingga makanan tersebut masih bisa terselamatkan dan enak untuk dikonsumsi.

First In, First Out (FIFO)

Untuk produk kemasan, kita dapat menerapkan metode FIFO (First In, First Out). Kita dapat mengecek tanggal kedaluwarsa suatu produk pangan. Konsumsi terlebih dahulu pangan yang masa simpannya tidak lama.

Sayur stok lama prioritas dimasak. Foto: Dini

Untuk sayur dan buah, kita juga dapat memilih yang sudah matang dan memiliki penampilan yang tidak sempurna (­imperfect produce). Biasanya, orang-orang lebih memilih buah dengan tampilan yang cantik dan belum terlalu matang supaya bisa disimpan lebih lama. Sehingga buah yang sudah terlalu matang atau penampilannya kurang cantik berpotensi untuk terbuang, padahal masih bisa dikonsumsi. Terakhir, apabila benar-benar tidak dapat menyelamatkan makanan tersebut, kita dapat mengolahnya menjadi pakan ternak atau menjadikannya pupuk kompos yang lebih bermanfaat.

Penulis: Khoiro Inda Dini