Menanggulangi Covid-19 dengan Pendekatan Komunitas

Permasalahan covid-19 bukan hanya permasalahan kesehatan individual, tapi permasalahan kesehatan banyak orang atau permasalahan komunitas…

Kondisi saat ini merupakan situasi luar biasa yang mungkin baru kali ini kita alami selama beberapa generasi. Pandemi covid-19 mau tidak mau mengubah seluruh tatanan kehidupan kita dari segala aspek. Berbagai sektor terimbas, mengharuskan kita sebagai pribadi maupun komunitas beradaptasi dengan kondisi yang ada.

Menyoroti Upaya Pemerintah

Pemerintah pun melakukan berbagai upaya dalam menanggulangi efek domino dari adanya covid ini. Bila ditelisik sepertinya pemerintah mengupayakan pendekatan yang meminimalkan kerugian. Namun bak berpijak pada dua perahu yang berbeda, tentu terjadi ketidakseimbangan. Pemerintah harus memilih diantara kerugian ekonomi atau kerugian kemanusiaan—karena tingginya angka kematian. Penulis dalam hal ini tidak akan mengkritisi lebih lanjut mengenai kebijakan yang diambil pemerintah, tetapi melihat fenomena sebagaimana adanya yang terjadi di dalam masyarakat.

Keluarga sebagai Komunitas Terkecil

Sebagai sebuah komunitas, tentunya kita merespon sesuatu tidak lepas dari pengaruh orang disekitar. Dalam ilmu psikologi, manusia satu dengan manusia lainnya saling terhubung dan menjadi satu bagian entitas yang berlapis. Yang terkecil adalah keluarga, dan yang terbesar adalah kita menjadi satu sebagai sebuah spesies.

Melindungi Keluarga.

Kembali ke beberapa bulan kebelakang, pada saat kasus awal positif corona muncul, penulis mengingat terjadi beberapa kehebohan di beberapa daerah di Indonesia. Masyarakat berbondong-bondong memborong barang-barang seperti masker, handsanitizer dan bahkan alat pelindung diri yang seharusnya dipakai petugas medis sehingga tidak tersedia. 

Faktor langkanya barang-barang tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor, bila secara ekonomis hal ini disebabkan supply tidak mampu memenuhi demand maka secara psikologis hal ini disebabkan oleh adanya opini publik atau persepsi kolektif di masyarakat bahwa hal tersebut akan menghindarkan diri tertular covid-19. Hal ini tidaklah salah, namun disini bisa kita garis bawahi bahwa masyarakat pada umumnya melihat segala sesuatu hal tidak terlepas dari perspektif orang kebanyakan.

Pengaruh Budaya pada Efektivitas Penanggulangan Covid-19

Masyarakat Indonesia dan negara-negara Asia lainnya dalam kajian beberapa penelitian masuk ke dalam kategori budaya yang kolektivis. Budaya kolektivis adalah budaya yang mengedepankan nilai-nilai kelompok dibandingan dengan nilai individualis. Namun berbeda dengan Wuhan, meskipun sama-sama menganut budaya kolektivis, di Indonesia memiliki situasi yang unik dimana memiliki paham demokratis dan masyarakatnya terdiri dari berbagai suku dan budaya. Hal inilah yang sebenarnya menjadi hambatan mengapa PSBB atau lockdown tidak dapat diterapkan di Indonesia.

Kemajemukan dalam demografi menjadi tantangan  bahwa setiap komunitas dan masyarakat memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri. Maka menurut penulis hal inilah yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan dalam melakukan berbagai pendekatan dalam penaggulangan covid-19.

Membudayakan bermasker di Tempat Umum

Perlu dipertimbangkan oleh pemerintah, bahwasannya masyarakat di Indonesia pada dasarnya mudah untuk dipengaruhi.  Namun karena ketidakonsistenan informasi yang diberikan menyebabkan masyarakat bergerak kearah lain dan mengikuti apa yang menjadi perilaku orang disekitarnya dan menjadi perilaku kolektif. Terbukti dari mulai dari kebijakan social distancing, PSBB sampai dengan new normal tidak terdapat hasil yang signifikan dalam menanggulangi persebaran covid. Situasi saat ini penulis ibaratkan sebagai kondisi yang terombang-ambing, dimana menarik lebih dalam pemerintah dalam jerat dilema penaggulangan covid.

Pemetaan

Lalu apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi pandemi covid ini ? Yang pertama pemerintah harus memiliki data terkait dengan karakteristik masyarakat dengan melakukan pemetaan baik dari segi sosiologis, psikologis maupun kesehatan masyarakat. Sehingga masyarakat dilihat sebagai sebuah entitas yang bergerak dinamis, bukan hanya sebagai objek.

Pemetaan ini tentunya melibatkan berbagai akademisi, stake holder dan tokoh masyarakat lokal tentunya. Karena seperti kita tahu permasalahan covid-19 bukan hanya permasalahan kesehatan yang individual. Namun merupakan permasalahan yang dialami banyak orang atau merupakan permasalahan komunitas. Maka untuk menyelesaikan masalah komunitas, haruslah melibatkan komunitas itu sendiri. Dengan begitu akan dirumuskan langkah-langkah dan pendekatan yang paling tepat sesuai kondisi spesifik yang ada di masyarakat. Bisa jadi kebijakan antara satu daerah dengan daerah yang lainnya akan sangat jauh berbeda. 

Memetakan masyarakat secara psikologis tentunya menitikberatkan dari bagaimana sebuah komunitas atau masyarakat dalam memandang permasalahan atau secara akademis hal ini disebut sebagai sebuah persepsi sosial. Persepsi sosial adalah dimana seseorang mengolah informasi sebagaimana apa yang menjadi pengetahuan dan pengalamannya sendiri. Covid-19 adalah hal yang baru bagi kita semua, dan tentunya hal ini menjadikan hal ini lebih sulit untuk dicari solusinya.

Ketegasan Pemerintah dan Kesadaran Masyarakat sebagai Penentu

Perjalan Antarnegara Riskan sebagai Penyebar Covid-19

Di Kabupaten Jember sendiri, perlu dikaji lebih dalam terkait perilaku khas masyarakat serta values yang dianut sehingga mampu diidentifikasi bagaimana cara berpikirnya. Dengan begitu semakin memudahkan pemerintah daerah untuk melakukan persuasi, sosialisasi atau perumusan kebijakan sehingga ekesnya yaitu meminimalkan resiko konflik di masyarakat serta kegagalan program. Setiap komunitas baik masyarakat atau kelompok tentunya harus dipandang sebagai sesuatu entitas yang unik, maka kebijakan yang diambil haruslah mengikuti dimana kebijakan itu dibuat bukan hanya sekehendak penguasa atau para ahli saja. 

Dengan demikian dalam menghadapi covid-19 perlu adanya kesadaran dari berbagai pihak bahwa masyarakat membutuhkan pendekatan yang lebih progresif yang menitikberatkan pada edukasi dan perumusan kebijakan yang terlokalisasi. Maka diharapkan hal ini akan mengurangi dampak domino secara ekonomis tetapi tidak meninggalkan perhatian untuk meminimalkan resiko penurunan status kesehatan masyarakat.

Artikel ini pernah dimuat di Jawa Pos Radar Jember 14 Juli 2020
Penulis: Haressa Lintang