Peduli Kekerdilan (Stunting): Mahasiswa KKN-15 UM Jember Ciptakan Program “Kelas Sayang Ibu dan Anak”

sosok ibu sangat berperan dalam ketahanan keluarga. Berbagai peran dilakukan, mengasuh, mendidik, memberi nutrisi bahkan mencari nafkah.…

Kuliah Kerja Nyata (KKN)

Jember – Mahasiswa KKN-15 Universitas Muhammadiyah (UM) Jember membantu meningkatan kesehatan masyarakat khususnya ibu dan anak di wilayah Desa Jubung Kecamatan Sukorambi dengan mencanangkan ‘Kelas Sayang Ibu dan Anak’. Kegiatan dengan menggandeng para kader posyandu, mahasiswa KKN-15 memberikan penyuluhan atau edukasi kepada ibu-ibu yang memiliki anak balita serta ibu hamil.

 “Kami sangat mendukung kegiatan yang adik-adik KKN usulkan terkait program pelayanan kesehatan ibu-ibu di posyandu dengan memberikan penyuluhan. Kami berharap dengan adanya kegiatan itu nanti ibu-ibu bisa lebih sadar terkait pentingnya memberi gizi seimbang pada anak serta cara pengasuhan yang baik”, ujar Devi salah satu kader di Posyandu Anyelir 29, (02/03/2021).

Kekerdilan (Stunting)

Asupan makan bergizi

Kekerdilan (stunting) secara sederhana digambarkan sebagai kondisi masalah kesehatan tentang tinggi badan yang tidak proporsional dengan umur yang diakibatkan oleh kekurangan gizi. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan standar angka pertumbuhan anak yang digunakan oleh World Health Organization (WHO) , organisasi bagian dari Peserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Permasalahan gizi ini karena faktor sosial ekonomi yang berdampak pada kecukupan gizi ibu hamil dan pada saat balita pada masa pertumbuhan. Masa-masa periode emas pertumbuhan anak diperlukan asupan gizi cukup sehingga pertumbuhan optimal yang akan berdampak pada fisik dan kemampuan kognitif anak tersebut.

Kekurangan gizi ini biasanya mulai terlihat ketika anak umur 2 tahun. Meskipun awal dari kekurangan asupan gizi terjadi ketika dalam kandungan. Data Bappenas 2018 menunjukkan 4 kabupaten di Jawa Timur sebagai prioritas penanganan kasus stunting antara lain, Jember, Lamongan, Kediri dan Nganjuk. Kemudian tahun 2019 ditambah lagi kabupaten Kediri.

Tabulasi stunting Jawa Timur (kominfo.jatimprov.go.id)

Data lain lagi disampaikan oleh Kepala Dinas Propinsi Jawa Timur, dr Kohar Hari Santoso yang dimuat website kominfo.jatimprov.go.id menyatakan terdapat 12 kabupaten utama yang diperhatikan terkait kasus stunting yaitu, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Jember, Bondowoso, Probolinggo, Nganjuk, Lamongan, Malang, Trenggalek dan Kediri.

Jika kita perhatikan sebagian dari kabupaten dengan kasus stunting tersebut merupakan lumbung pertanian.

Kasus ini yang tetap ada di propinsi Jawa Timur bisa jadi karena pemahaman keluarga akan gizi yang belum benar. Tentunya hal ini menjadi tugas Pemerintah melalui dinas kesehatan beserta pos-pos pelayanan ibu dan anak. Ibu-ibu muda selama hamil lebih mengutamakan asupan yang diinginkan daripada kebutuhan  badan, misal lebih memilih makan cilok atau sejenis yang sedikit gizi daripada nasi (singkong/ketela/jagung) yang lebih beergizi. Secara tidak sadar kebiasaan ini diajarkan oleh sang ibu kepada anak.

Mengatasi kebiasaan jajan (www.cnnindonesia)

Perilaku menghindari mengonsumsi sayur mulai terlihat di generasi muda. Padahal kebutuhan nutrisi badan akan tercukupi dari makanan yang bervariasi. Kebiasaan makan sehat akan terbentuk dari kebiasaan keluarga. Kemudian akan menjadi kebiasaan hingga dewasa. Diperlukan penelitian lanjut antara pemerintah, dinas kesehatan dan Perguruan tinggi untuk mendapatkan data secara menerus dan aktual dari masyarakat.Kemudian penanganan secara cepat dan cermat segera dilakukan.

Permasalahan lain yang mesti diperhatikan pula yaitu kebutuhan ASI ekslusif pada bayi. Diakui atau tidak pengaruh iklan susu formula dan gencarnya akan penetrasi produk susu telah menjadikan anak kehilangan hak akan ASI ekslusif. 

Padahal kebutuhan gizi komplit dan aman terdapat pada ASI ekslusif. Peran serta ayah sebagai mendukung ibu muda juga harus mendapat tempat, karena setelah ibu interaksi selanjutnya dengan ayah. Ibu muda cenderung membutuhkan dukungan secara psikolgis untuk memberikan ASI kepada buah hati. 

Pendampingan dan penyuluhan diperlukan untuk mengatasi permasalahan yang penting ini karena menentukan kualitas generasi masa depan Indonesia.

Kabupaten Jember stunting tertinggi?

Kasus stunting Indonesia pada 2019 sebesar 27,64% padahal standar WHO sebesar 20%, sedangkan Jawa Timur sendiri sebesar 26,86%, sedangkan kabupaten Jember sebesar 37,94% sebagai no 3 setelah kabupaten Probolinggo dengan angka 54,75% dan kabupaten Trenggalek sebesar 39,88%.

Kelas Sayang Ibu dan Anak (Istimewa/Haressa)

Kolaborasi antara Akademisi, Pemerintah dan masyarakat penting dilakukan karena stunting ini masalah serius yang menenntkan kualitas anak-anak di masa depan. Perkembangan kecerdasan dan pertumbuhan badan akan terganggu karena kekurangan gizi yang sebenarnya bisa diatasi secara bersama.

‘Kelas Sayang Ibu dan Anak’ merupakan program mengenalkan (promotif) dan pencegahan (preventif) terhadap peningkatan kasus stunting khususnya di wilayah Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi. “Program kami dibuat berdasarkan proses asesmen terhadap permasalahan apa saja yang terjadi di wilayah desa Jubung. Kebetulan program penanggulangan stunting menjadi perhatian bagi bapak kades Jubung. Lalu kami juga menganggap program ini penting karena kasus stunting di Kabupaten Jember termasuk yang tertinggi di Jawa Timur”, ucap Tuti Prihatin sebagai kordinator lapangan KKN-15.

Edukasi Pengasuhan Anak dan Gizi

‘Kelas Sayang Ibu dan Anak’ pada dasarnya memberikan edukasi terkait pengasuhan yang baik, gizi seimbang  untuk anak, dukungan terhadap psikologi ibu serta upaya mecegah penyebaran virus Covid-19 dengan mengkampayekan kembali protokol kesehatan.

Selain itu ‘Kelas Sayang Ibu dan Anak’ juga memberikan kelas khusus untuk anak diantaranya; memberikan edukasi tentang mencuci tangan yang benar dan memakai masker; melatih motorik halus dengan mewanai gambar; melatih kognitif anak dengan tebak gambar dan warna. 

“Alhamdulillah berjalan dengan lancar’, tutur Ani salah satu kader posyandu di Dusun Darungan saat diwawancarai  menggunakan media telepon (03/03/2021). ‘Kelas Sayang Ibu dan Anak’  dilaksanakan di dua tempat yaitu Dusun Jubung Lor dan Dusun Darungan Selatan pada tanggal 08 Maret 2021 dan 10 Maret 2021.

KKN Mahasiswa UM Jember. (Istimewa/Haressa)

Program ini diikuti oleh 15 peserta ibu-ibu di  masing-masing dusun serta pelaksanaannya tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus covid-19.  Ketua KKN-15; Lintang menuturkan “Kegiatan KKN kami fokuskan untuk program peningkatan kesehatan dan pendidikan melalui kegiatan sosialisasi berupa kelas sayang ibu anak.

Sosok ibu sangat berperan dalam ketahanan keluarga. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak utnuk mengenal dunia kemudian menegmbangkan kemampuan anak. Ibu memiliki berbagai peran seperti mengasuh, mendidik, memberi nutrisi bahkan mencari nafkah.

Oleh karena itu, kami berharap melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, kami dapat membantu menguatkan peran ibu di dalam keluarganya yang tentu saja dampak jangka panjangnya adalah dapat meningkatkan kesehatan di masyarakat.” 

Penulis: Haressa Lintang  | Editor : Luqi Khoiriyah