Abrasi Pantai Utara, Diam-diam Menenggelamkan Nasib Petani Tambak

Prediksi NGO Amerika bahwa tahun 2050 nanti 23 juta penduduk pesisir Indonesia terkena banjir rob akibat naiknya permukaan air laut... …

 

Prediksi NGO Amerika bahwa tahun 2050 nanti 23 juta penduduk pesisir Indonesia terkena banjir rob akibat naiknya permukaan air laut...
Hari Bumi Sedunia (Earth Day) diperingati setiap tanggal 22 April. Tema Hari Bumi 2021 adalah “Restore Our Earth” atau Pulihkan Bumi Kita. Berdasarkan tema tersebut, Hari Bumi tahun ini berfokus pada proses alam, pengembangan teknologi hijau dan pemikiran-pemikiran inovatif yang dapat memulihkan ekosistem dunia.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong, berharap dalam memperingati hari bumi sedunia ini, masyarakat Indonesia terus memelihara lingkungan hidup dan berbuat baik untuk bumi dengan memulai melakukan langkah-langkah kecil (Ramadhani, 2021). Ironisnya, secara pelan-pelan daratan di Indonesia semakin berkurang karena meningkatnya permukaan air laut dan mengikis dataran pesisir pantai.

Abrasi Pantai Utara

Menurut KBBI, abrasi adalah pengikisan batuan oleh air, es atau angin yang mengandung dan mengangkut hancuran bahan. Abrasi juga berarti pengikisan wilayah pesisir akibat gelombang air laut. Tingkat kepunahan abrasi terhadap wilayah pesisir, tergantung pada keseimbangan alam di wilayah tersebut (Storigraf, 2020).

Isu abrasi pantai (tirto)

Fenomena abrasi ditandai dengan hilangnya sebagian dataran di sekitar pesisir. Terjadinya abrasi di pantai utara dikarenakan pemanasan global yang mengakibatkan pencairan es di antartika, hal ini dapat berimbas pada peningkatan permukaan air laut di Indonesia.

Fenomena pemanasan global dipicu oleh kegiatan manusia terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahan fosil dan kegiatan alih guna lahan, kegiatan tersebut dapat menghasilkan gas-gas yang semakin lama akan semakin menumpuk di atmosfer, terutama gas CO2 (karbon dioksida) melalui proses yang biasa disebut efek rumah kaca. Efek rumah kaca dapat menjadi penyebab pemanasan global, dimana peningkatan suhu di permukaan bumi dapat menyebabkan pencairan es di kutub, hal ini dapat berdampak pada terjadinya pengikisan garis pantai dan mengakibatkan kenaikan permukaan air laut. Dampak pemanasan global semakin cepat terjadi, karena tingginya tingkat kerusakan lingkungan dan penggunaan energi kotor.

Abrasi juga dapat dikarenakan oleh manusia yang ingin memodernkan lingkungan pantai tanpa memperhitungkan kondisi lingkungan itu sendiri, seperti eksploitasi yang tidak terkendali terhadap hutan bakau dan penambangan pasir laut. Faktor-faktor tersebut dapat mengurangi daya tahan pantai terhadap gelombang laut dan mengganggu tatanan pantai. Akibatnya terjadilah abrasi dan kerusakan lingkungan biota laut. Selain itu, penggundulan hutan di daratan juga dapat menyebabkan pengikisan dan erosi lapisan tanah, sehingga ketika terjadi hujan lapisan tanah yang terkikis akan terbawa ke laut.

Diam-diam Tenggelam

Kawasan pesisir pantai utara jawa meluas dari barat ke timur mulai dari Jakarta, Bekasi, Karawang, Pekalongan, Semarang, Demak dan meluas ke daerah Jawa Timur. Wilayah yang termasuk zona pesisir pantai utara Jawa Timur antara lain Kabupaten Tuban, Lamongan, Gresik, Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo dan Situbondo (esdm.go.id, 2016). Menurut skala nasional, ancaman tenggelamnya pesisir Indonesia sudah sampai pada tahap “mengkhawatirkan”. Kenaikan suhu global berimbas pada mencairnya gunung es di kutub utara dan selatan, sehingga dapat mendorong kenaikan permukaan air laut.

Banjir rob di Jakarta Utara (bbc)

Merujuk data satelit yang dikumpulkan oleh peneliti ITB selama 20 tahun lebih, ternyata di perairan Indonesia, terjadi penurunan permukaan air laut sekitar 3 -8 mm per tahun. Sementara itu, esitimasi penurunan permukaan tanah, terjadi lebih drastis yaitu berkisar antara 1 – 10 cm per tahun. Bahkan di beberapa tempat, penurunan permukaan tanah dapat mencapai 15 – 20 cm per tahun. Climate Central, sebuah organisasi non pemerintah di Amerika Serikat, juga memprediksi bahwa pada tahun 2050 sebanyak 23 juta penduduk pesisir Indonesia akan terkena banjir rob akibat naiknya permukaan air laut.

Terjadinya penurunan permukaan tanah dapat disebabkan antara lain konsumsi air tanah yang berlebih, karena semakin banyaknya populasi dan berdirinya beberapa infrastruktur dengan berat yang berlebih. Kawasan pesisir yang berada lebih rendah dibandingkan permukaan air laut, membuat daerah tersebut semakin rawan akan bencana seperti banjir rob. Fenomena tersebut mengancam hampir seluruh pesisir Indonesia yang dapat mengakibatkan lebih dari 100 kabupaten/kota di pesisir Indonesia berpotensi tenggelam, sayangnya tidak semua masyarakat di pesissir menyadari ancaman ini (Amindoni, 2020).

Petani Tambak di Pantura, Nasibmu Kini

Pada tahun 2017, Kabupaten Gresik menjadi wilayah dengan luas area tambak terluas di Jawa Timur yaitu mencapai 15.601 Ha. Tambak paling luas selanjutnya disusul oleh Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan, Kabuaten Sampang, Kota Surabaya, Kabupaten Probolinggo, dan seterusnya (BPS Jawa Timur). Kawasan tambak di Kabupaten Gresik, banyak terdapat di daerah Mengare Kecamatan Bungah. Di sana, para petani tambak banyak yang membudidayakan Ikan Bandeng.

Tambak di Mengare Gresik (YouTube Watchdoc Documentary)

Berdasarkan penelusuran tim Watchdoc Documentary dan Greenpeace, mereka melakukan perjalanan menyusuri pesisir pantai jawa. Ironisnya, di daerah Gresik, Pulau Mengare tersebut telah menyatu dengan daratan Laut Jawa akibat pengendapan lumpur Sungai Bengawan Solo sejak abad ke-19. Di kawasan Mengare, diperkirakan luas tambaknya mencapai ribuan hektar dimana per tahunnya menghasilkan hamper sebanyak 40.000 ton Ikan Bandeng.

Sejatinya, Masyarakat Gresik telah memiliki ikatan erat dengan Ikan Bandeng, hal ini terbukti dengan adanya pasar bandeng setiap menjelang Idul Fitri. Akan tetapi, kejayaan Ikan bandeng kian memudar. Secara pelan-pelan, luas tambak ikan bandeng menjadi berkurang, hal ini disebabkan tanggul penahan yang rusak terhempas ombak karena naiknya permukaan air laut akibat abrasi.

Warga Gresik Membuat Tanggul dari Bambu dan Lumpur (YouTube Watchdoc Documentary)

Warga di sana berinisiatif membangun tanggul sendiri yang terbuat dari bambu dan lumpur, tanggul tersebut hanya mampu bertahan beberapa bulan, sehingga warga terus-menerus memperbaiki tanggul tersebut. Berdasarkan wawancara tim Watchdoc Documentary, salah seorang warga di sana bercerita bahwa pada tahun 2016, kawasan tersebut masih berupa tanah dan terdapat tanaman mangrove, serta menjadi area tambak. Akan tetapi, sekarang kawasan tersebut sudah terkikis dan menyatu dengan lautan akibat abrasi, padahal seharusnya mangrove dapat menjadi benteng alam dari terjadinya fenomena pasang laut dan hantaman ombak.

Pada saat akan memasuki musim hujan, para petani tambak terpaksa memanen ikan lebih awal, supaya tidak semakin merugi karena adanya ancaman tanggul jebol dan jika itu terjadi dapat menyebabkan Ikan Bandeng terbawa ke lautan lepas. Fenomena abrasi di pesisir Gresik mengancam tambak bandeng yang menjadi mata pencaharian masyarakat. Abrasi tidak hanya mengancam pendapatan mereka, tapi juga ikatan masyarakat Gresik dengan Ikan Bandeng yang telah menjadi identitas di sana.

Panen lebih awal (YouTube Watchdoc Documentary)

Petani tambak terpaksa memanen ikan bandeng lebih awal. Hal ini dikarenakan ketika panen tidak dilakukan maka ikan akan hilang ke laut. terbawa oleh air laut yang memasuki tambak. Berdasar pertimbangan ekonomi bahwa panen dini lebih baik daripada tidak bisa panen ikan. 

Sumber:

Amindoni, Ayomi. 2020. Perubahan Iklim: Pesisir Indonesia Terancam Tenggelam, Puluhan Juta Jiwa akan Terdampak. Diakses dari www.bbc.com pada tanggal 25 April 2021.

Ramadhani, Yulaika. 2021. Earth Day 22 April 2021, Tema & Cara Merayakan Hari Bumi Sedunia. Diakses dari www.tirto.id pada tanggal 22 April 2021.

Storigraf. 2020. Krisis Iklim Menelan Kehidupan di Pantai Utara Jawa. Diakses dari www.tirto.id pada tanggal 20 April 2021.

Penulis: Khoiro Inda Dini