Popok Bayi: Kapankah akan menjadi Fashion Ramah Lingkungan?

Popok bayi merupakan popok paling popular dari 3 jenis popok yang berada di pasaran yaitu popok bayi, popok wanita dan popok manula K…
Kehidupan manusia dari jaman ke jaman selalu ada tantangan sebagai upaya untuk mempertahankan hidup. Sumber daya alam menjadi andalan manusia untuk memenuhi kebutuhan. Semisal, di masa dahulu daun umum sebagai alat pembungkus sekali pakai kemudian dibuang. Meskipun sampai sekarang daun masih digunakan tetapi teknologi plastik telah menggantikan banyak peran disamping sebagai pembungkus.

Daun yang dibuang ke alam pada masa lampau bisa terdegradasi dengan mudah dia alam. Sekarang tantangan menjadi berbeda ketika daun yang terbungkus oleh produk plastik dibuang ke alam. Secara alami seiring waktu daun tersebut akan layu kemudian membusuk di dalam plastik, tetapi pembusukan yang terjadi di dalam plastik bisa berpeluang menjadi tempat bakteri berkembang. Kita bayangkan misal sampah, limbah manusia yang tercampur aduk tanpa pemilahan akan berakibat berbahaya bagi kehidupan manusia itu sendiri.

Plastik sebagai Salah Satu Penemuan Terpenting Manusia

Tidak dipungkiri plastik merupakan salah satu penemuan terbesar manusia. Ringan, mudah dibentuk, bisa dipakai di hampir semua bidang kebutuhan manusia. Hal ini menjadi kehebatan plastik yang belum ada tandingan. Akan tetapi ketika kebutuhan plastik oleh manusia menempati segala aspek kebutuhan manusia, kini plastik menjadi masalah tersendiri yaitu dari dari segi limbah. Meskipun terdapat plastik yang bisa berulang kali, terdapat pula produk plastik sekali pakai yang jumlahnya lebih banyak daripada produk berulang kali pakai.

Di satu sisi plastik memberi banyak kemudahan bagi kebutuhan manusia, di sisi lain plastik menghasilkan limbah dari sisa atau bekas penggunaannya. Limbah plastik sekarang tidak hanya berada di daratan, bahkan pencemaran perairan sungai, laut. Keberadaan limbah plastik yang persisten di lingkungan membahayakan siklus rantai kehidupan. Kerusakan alam yang terlanjur parah, kemudian alam akan sulit menyembuhkan dirinya secara alami. Kondisi tersebut akan memunculkan bahaya yang harus diperhatikan oleh manusia. Bahaya penyakit dan bencana alam akan beruntun mengenai manusia.

Popok Bayi (Diapers)

Membicarakan plastik, tahukah kita? Bahwa produk plastik sangat banyak dan setiap hari berinterkasi dengan produk berbahan plastik. Kita ambil contoh produk kebutuhan bayi yang berkaitan dengan plastik, semisal popok (diapers). Popok menjadi pilihan bahasan karena saat ini limbah popok di sungai dan di daratan setiap hari dijumpai. Ecoton, salah satu Lembaya Swadaya Masyarakat (LSM) bidang lingkungan seringkali melakukan pembersihan sungai yang terscemar oleh sampah plastik, popok dan sampah lainnnya. Popok mulai menjadi masalah serius karena penggunaan popok telah menjadi kebutuhan oleh para ibu-ibu untuk memudahkan pekerjaan mereka dalam merawat bayi. Popok mempunyai bagian-bagian yang banyak. Setiap bagian mempunyai fungsi tersendiri. Bagian-bagian popok akan dibahas kemudian, sehingga kita dapat mengetahui lebih rinci. Pada akhirnya kita akan menyadari bahwa manusia sudah sangat bergantung pada plastik.

Popok bayi merupakan popok yang paling popular dari 3 jenis popok yang berada di pasaran, popok bayi, popok wanita dan popok manula. Bayi dengan popok memudahkan kerja para orang tua atau nanny (penjaga bayi) yang menjaga bayi dalam upaya meminimalkan cucian akibat ompol bayi. Selain itu popok bayi memperlihatkan seakan kondisi bayi lebih bersih. Padahal telah terjadi beebrapa kasus bayi dengam masalah ruam atau masalah yang lain dikarenakan popok sekali pakai.



Gambar 1. Bagian-bagian popok bayi
(Park, et. al., 2019)

Berdasarkan gambar 1. terlihat bagian-bagian dari popok bayi. Hampir semua komponen dari komponen popok bayi tersebut terbuat dari bahan yang tidak bisa didegradasi secara alami. Popok sekali pakai merupakan jenis limbah yang menyumbang sekitar 4% limbah solid (solid waste). Meskipun presentase terlihat kecil tetapi limbah popok seklai pakai akan bisa meningkat sekitar 60 kali peningkatan limbah padat. Hal ini berhubungan dengan peningkatan pertumbuhan populasi manusia.

Popok bayi sekali pakai disukai oleh konsumen karena kepraktisan dalam pemakaian, setelah pakai maka tinggal buang. Perihal kebiasaan sampah buangan popok inilah yang menjadi masalah lingkungan belakangan ini. Popok-popok bayi menjadi sampah yang sering ditemui di got-got, dan sungai-sungai. Karakteristik sampah popok bayi cenderung lebih berat dibandingkan konsidi sebelum dibuang, karena memiliki bagian di tengah yang mengandung gel bernama Super Absorbent Polymer (SAP) yang berfungsi meyerap cairan urin bayi. Gel ini akan mengunci cairan urin supaya tidak tumpah keluar dari SAP, sehingga kondisi yang diciptakan oleh popok seakan kering di area pantat bayi.

Kondisi kering pada area paha dan pantat bayi ternyata tidak serta merta memberikan kondisi higienis. Hal ini menunjukkan sirkulasi udara tidak cukup baik, sehingga seringkali bayi dengan pemakaina menerus popok akan terkena alergi yaitu ruam popok. Berdasarkan penelitian dari Irfianti et. al., (2020) menunjukkan bahwa bayi yang memakai popok sekali pakai seringkali mengalami dermatitis popok. Hal ini disebabkan oleh keadaan lembab kotor yang disebabkan oleh popok yang terus dipakai. Cairan urin yang terkunci pada SAP memang tidak mengalir keluar, akan tetapi kelembapan yang diciptakan merupakan lembap yang kotor. Ditambah sirkulasi pada popok sekali pakai yang terbuat dari bahan plastik memiliki sirkulasi udara yang terbatas. Selain itu bahan tersebut karena terbuat dari non woven ketika kontak dengan kulit gesekan yang kasar sehingga lecet kulit bayi tidak bisa dihindari. Penggunaan yang sering kemudian menimbulkan ruam pada daerah yang kontak dengan popok tersebut.

Limbah Popok Sekali Pakai (Diapers)

Popok ketika dalam posisi buangan di lingkungan maka akan berada dalam kondisi menggembung karena lapisan luar yang berupa plastik dan gel yang memerangkap akan menghalangi penguapan secara cepat dari cairan yang tersimpan di SAP. Kemudian cairan yang menetap ini akan berpotensi menjadi media bakteri berkembangbiak. Selain hal itu, komponen penyusun popok bayi yang bebrbahan material no woven mempunyai sifat tudak bisa didegradasi di lingkungan. Keberadaan sampah popok bayi yang persisten di lingkungan ini keberadaannya mengganggu kesehatan dan mencemari perairan. Ketika sampah popok ini bertemu dengan sampah-sampah lainnya di perairan maka fungsi dari sungai atau aliran akan terganggu.


Gambar 2. Bagian SAP (super absorbent Polimer)
(Park, et. al., 2019)

Perlu diperhatikan pula dari segi bahan. Popok terbuat dari plastik sintetis. Sisi kesehatan dari popok bayi oleh para bunda yaitu kandungan bahan kimia. Seperti yang dilaporkan dalam penelitian oleh Park, et. al., 2019, bahwa popok sebagian besar mengandung banyak bahan kimia organik volatil (metil klorida, toluen, xilen) dan Ptalat. Pengukuran yang dilakukan oleh penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi dua kelompok senyawa tersebut dibawah standar Dosis yang disarankan atau Reference Doses (RfD) memungkinkan terakumulasi karena interaksi secara intens dengan kulit bayi.

Bagian-bagian dari popok bayi yang berinteraksi dengan kulit digambarkan secara sederhana oleh gambar 3 di bawah ini. 

Gambar 3. Gambar Bagian popok yang berinteraksi dengan kulit.

Gambar 3 menunjukkan bagian tengah terdapat Superabsorbent polymer (SAP). Bagian ini yang akan memerangkap cairan urin dari bayi atau anak. Cairan tersebut akan terkunci di dalam SAP. Bagian SAP gambar 3 tertulis istilah non woven. Non woven merupakan tipe jahitan (pintalan) oleh mesin modern yang kemudian menyatu menjadi kain menggunakan bahan kimia, panas atau tekanan. Bahan ini berbeda dengan woven yang dibuat dengan proses pintalan (rajutan), meskipin sama-sama menggunakan mesin otomatisasi pabrik tekstil.

Kontributor: Luqi Khoiriyah

Daftar Pustaka

Bae, J.,Kwon H., and Kim, J.2018. Safety Evaluation of Absorbent Hygiene Pads: A Review on Assessment Framework and Test Methods. Sustainability 10, 4146: 1-17.

Irfanti, R. T., Betaubun, A. I., Arrochman, F., Fiqri, A., Rinandari, U., Anggraeni, R., Ellistasari, E. Y. 2020. Diaper Dermatitis. Continuing Medical Education Edisi Khusus CME 2 Volume 47, 52-57.

Park, C., J., Barakat, R., Ulanov, A., Li, Z., Lin, Po-Ching, Chiu, K.,Zhou, S., Perez, P., Lee, J., Flaws, J., and Ko, C., J. 2019. Sanitary Pads and Diapers Contain Higher Phthalate Contents than Those in Common Commercial Plastic Products. Reproductive Toxicology 84, 114-121.

Khanyile, A., Caws, G., C., Nkomo, S., L., and Mkhiz, N., M. 2020. Characterisation Study of Various Disposable Diaper Brands. Sustainibility 12 : 1-18.